SEKELUMIT KISAH THE GRAND OLD MAN DAN KEPAHLAWANANNYA DALAM PEMIKIRAN ISLAM.

Oleh : Farras Abyan Aziz
{BS Economics IIU Islamabad}

Pemenang Lomba Menulis Kaya Tulis Opini dalam Rangka Memperingati Hari Pahlawan 2020

“Apakah aksi militer yang tuan-tuan lancarkan terhadap kami sesuai dengan perjanjian linggarjati?, kalau tuan-tuan melancarkan sekali lagi aksi militer terhadap kami, kami akan mencapai pengakuan de jure di seluruh dunia!”. Demikianlah perkataan The Grand Old Man-Haji Agus Salim seorang pahlawan dengan magnum opus-filosofinya “Leiden is Lijden”, saat perundingannya bersama perwakilan belanda di geledak kapal perang Amerika Serikat, USS Renville pada siang hari, 8 Desember 1947 untuk memperebutkan kembali wilayah-wilayah Nusantara yang dijajah belanda.

Meski perawakannya kecil, Ia adalah diplomat yang cerdik dan pendebat ulung; seorang alim yang kritis dan berwawasan global dengan penguasaan 9 bahasa asing. Karakter kehebatannya digambarkan oleh prof. Schermerhorn sebagai pendiri negara yang kelemahannya hanya satu, bahwa selama hidupnya Haji Agus Salim melarat. Namun, yang paling penting dari kehebatannya ialah visi perjuangannya yang diilhami dengan konsep Tauhid. hal ini terekam dalam interpretasi sila pertama yang ia kemukakan,

“…bahwa dengan pokok dasar ketuhanan Yang Maha Esa itu kita maksudkan Akidah. Kepercayaan agama dengan kekuatan keyakinan, bahwa kemerdekaan bangsa dan tanah air itu suatu hak yang diperoleh daripada Rahmat Karunia Tuhan Yang Maha Esa dengan ketentuan-Nya yang dilaksanakannya dengan semata-mata kekuasaan-Nya pada ketika masanya menurut kehendak- Nya.”(Salim & Roem, 1977).

konsep kepahlawanan Agus Salim Dalam Pemikiran Islam

Alegori kepahlawanan Haji Agus Salim tersebut memberikan sebuah isyarat kepada kita bahwa pertama sekali seorang pahlawan Muslim yang berjuang membela kebenaran harus mengetahui dengan jelas arti kebenaran yang ia perjuangkan, yaitu perjuangan yang tersematkan di dalamnya visi ketauhidan. Seperti halnya definisi pahlawan dari kata “Pahla” yang bermakna pahala dan “Wan” yang berarti orang-orang yang mewujudkannya, maka jika digabungkan, kata tersebut mengandung arti orang-orang yang berjuang menegakkan kebenaran demi mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

Dari sini juga kita memahami bahwa kebenaran bagi seorang pahlawan Muslim akhirnya tidak dapat diartikan secara relatif, atau dengan mempertanyakan kebenaran yang tidak ada ujungnya (regressus ad infinitum) dan kembali lagi sehingga akhirnya beputar-putar tiada henti (petitio principii)

ataupun mengaggap kebenaran hanya dapat dicari atau dihampiri (verisimilitude), namun mustahil ditemukan (nesciam). Sebab, bagaimana mungkin kemerdekaan bisa terwujud jika seorang pahlawan mengalami kebingungan menilai penindasan penjajah sebagai perbuatan yang mungkin juga bernilai mulia, tergantung dari sudut pandang ia berpihak?.

Kedua, seorang pahlawan sudah barang tentu memiliki karakter kepemimpinan. Dalam konsep kepemimpinan Islam elemen-elemen dasar yang perlu menjadi visi atau pandangan kedepan seorang pemimpin Muslim ialah pengertian yang benar mengenai Tuhan, Wahyu, Agama, Dunia, Psikologi Jiwa Manusia, Ilmu, Adab, makna Kebahagiaan, makna Perubahan, Pengembangan, dan Kemajuan atau yang kita kenal dengan istilah Worldview Islam yang bersumber dari ajaran Tauhid.

Dengan memahami psikologi jiwa manusia misalnya, seorang pemimpin Muslim akan mudah mengenali indera dan letaknya di dalam jiwa manusia, memahami kecenderungan indera yang mendorong manusia ke dua titik ekstrim yang berimplikasi melakukan perbuatan yang keliru dan juga memahami cara menyeimbangkannya melalui proses perenungan (tafakkur), bertobat (taubah), bersabar (shabr), bersyukur (Shukr), memohon ampun (raja’), merasa takut (khauf), beriman (tauhid), menyerahkan urusan dunianya (tawakkal) dan mencintai Allah (mahabbah).

Maka pantaslah jika kita melihat sosok Haji Agus salim dengan karakter kepemimpinannya mampu mengendalikan dirinya untuk tetap tenang saat berpidato di depan Volksraad dengan bahasa melayu, meski perlu menentang peraturan forum ataupun ketika perundingan Renville dengan penolakannya terhadap kesepakatan garis demarkasi Van Mook yang mengakibatkan belanda melanjutkan ancaman agresi militernya hingga ke Yogyakarta. Karakter ini kemudian dalam istilah kekinian dikenal sebagai karakter deliberate calm yaitu kemampuan seorang pemimpin yang rendah hati namun tangkas, untuk melepaskan diri dari situasi cemas dan berpikir jernih tentang cara mengendalikan situasi.

Ketiga, terwujudnya kemerdekaan Indonesia utamanya tidak terlepas dari pahlawan yang menerapkan tradisi keilmuan. Haji Agus Salim merupakan seorang pembelajar yang ulung. Selain mengusai 9 bahasa dan 3 bahasa daerah, Setidaknya Agus Salim menghasilkan 22 buku dan 12 terjemahan buku asing. Perjalanan karirnya sebagai pimpinan redaksi tiga kantor berita, menjadi penasihat konferensi buruh sedunia di Jenewa, tersesat dengan theosofi dan pendidikan barat, hingga kembali mendapatkan pencerahan dari Syeikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi membuat dirinya kuat menghadapi turbulensi usaha-usaha memerdekakan Indonesia.

Selain Agus Salim terdapat sederet tokoh-tokoh lainnya yang berjuang bersama, seperti Hatta dengan ekonomi kerakyatannya, Tjokroaminoto dengan pergerakan sosial Sarekat Islamnya, Kartosoewirjo dengan cita-cita negara Islamnya yang juga merupakan kaum terpelajar dan ikut berkolaborasi, berdialog dan bekerjasama secara tersistematis untuk melepas mindset bangsa Indonesia yang menganggap dirinya “kawula” (budak) dan penjajah sebagai “gusti” (tuan) hingga membangkitkan keberanian masyarakat melakukan perlawanan terhadap kungkungan penjajahan belanda. gerakan inilah yang disebutkan budayawan kuntowijoyo sebagai “Islam sebagai Ilmu”.

Ilmu dan Amal

Di usianya yang ke-69, pahlawan yang juga di sapa Oude Heer (Sang Lelaki Tua) ini mengabdikan dirinya untuk mengajar di Cornell University atas undangan George McTurnan Kahin, Direktur program Asia Tenggara Cornell University. Beliau mengajarkan 31 mata kuliah dengan tema Agama Islam dan pengaruhnya di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Selain itu, pada bulan April di tahun yang sama Salim diundang ceramah di acara Majelis Umum Simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang berlangsung di Myron Taylor Hall Cornell University. Disinilah barangkali kiprah Agus Salim yang terakhir sebelum akhirnya wafat di tahun 1954 M.

Setidaknya kisah Haji Agus Salim ini dapat menjadi refleksi semangat untuk kita yang saat ini sedang belajar di universitas luar negeri dengan segala fasilitasnya. Mulai dari belajar ilmu pengetahuan dan adab di bangku sekolah, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, mengasah kepekaan sosial, berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran, menjadi katalisator perubahan dengan perspektif baru dan ilmu yang benar hingga mengakhiri masa-masa tua dalam kehidupan untuk hal-hal bermanfaat yang berorientasi pada pahala dan mengharapkan keridhoan Allah.SWT.

Semoga Allah senantiasa merahmati perjuangan kita semua. Selamar berjuang! Allahua’lam Bishawwab.

Daftar Pustaka
al-Attas, S. N., & Daud, W. N. (2014). The ICLIF Leadership Competency Model (LCM):An Islamic Alternative. Kuala Lumpur: Mesbah SDN BHD.
Arif, S. (2016). Ilmu, Kebenaran, dan Keraguan: Refleksi Filosofis-Historis. Jakarta: INSISTS.
Tempo. (2017). Agus Salim : Diplomat Jenaka Penopang Publik. Jakarta: PT. Gramedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *