Refleksi Sejarah Hari Kartini: Kartini dan Sejarah yang Didistorsi

Oleh: Ali Muhtadin
BS Ushuluddin IIU Islamabad

Tanggal 21 April kita kenal sebagai Hari Kartini. Hampir seluruh kaum wanita di Nusantara memperingati hari tersebut. Mulai dari anak-anak, perempuan dewasa, baik personal ataupun melalui lembaga. Hari kartini diperingati sebagai hari emansipasi wanita, kesetaraan gender, perjuangan gender dan hal-hal yang semakna dengan itu. Kartini sendiri dikenal sebagai ikon pejuang wanita di zamannya. Hingga saat ini, Kartini dianggap sebagai perempuan yang mengangkat derajat sorang wanita di Indonesia.

Kartini diagungkan kaum Hawa khususnya sebagai pelopor kebangkitan kaum perempuan di pribumi. Hal tersebut diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.

Kartini lahir pada tahun 1879 di desa Mayong, sebelah barat kota Kudus, Kabupaten Jepara. Bapaknya bernama R.M. Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang patih yang diangkat Bupati pada zamannya. Di saat kecil, Kartini menempuh Pendidikan Dasar Eropa di Europes Lagare School (ESL) pada tahun 1885-1892. Di sekolah tersebut, Kartini banyak berteman dengan anak-anak Eropa.

Setamat dari ESL, Kartini ingin melanjutkan pendidikan menegah 5 tahun di Hooger Burger School (HBS) Semarang sebagaimana kakak ketiganya R.M.P Sosrokartohno. Namun, niat tersebut urung, karena larangan sang ayah. Kegagalan tersebut lantaran usia Kartini yang secara adat memasuki usia pernikahan. Menjelang pernikahannya, Kartini menjalani masa pingitan. Dalam masa pingitannya, Kartini merasakan betapa haknya mendapatkan pendidikan dibatasi secara utuh. Sementara itu, di luar ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.

Akhirnya, Kartini banyak bergaul dengan orang Belanda berdarah Yahudi. Seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny.Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny. Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.

Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Stella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Dengan mereka, Kartini banyak melakukan korespondensi. Dalam sebuah suratnya kepada Ny. Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan;

”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan.”

Ada hal menarik yang dapat kita cermati dari penentuan Hari Kartini sebagai Hari Nasional. Jika kita tarik benang merah sejarah, ada banyak perempuan-perempuan pada zaman itu dengan perjuangan dan pemikiran yang layak untuk di apresiasi. Sebut saja Rohana Kudus, seorang wanita berdarah Minang kelahiran 1884 dan Dewi Sartika, wanita kelahiran Bandung yang juga banyak berkiprah di dunia pendidikan perempuan.

Rohana Kudus dan Perjuangannya Terhadap Wanita

Rohana Kudus lahir pada tanggal 20 Desember 1884 di Kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Rohana memiliki nama asli Siti Rohana. Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus merupakan kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama. Ia juga merupakan sepupu H. Agus Salim, mantan Duta Besar Republik Indonesia pertama dan mantan Menteri Luar Negeri pada Kabinet Sjahrir dan Hatta (1947-1949).

Agus Salim adalah salah satu tokoh pelopor Home Schooling Indonesia. Agus Salim sangat peduli pada pembentukan watak dan karakter yang menurutnya tidak didapat dari sekolah formal. Rohana merupakan salah satu murid Agus Salim di dalam Home Schoolingnya. Rohana tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sungguh Rohana memiliki sebuah kekerabatan dari beberapa nama besar yang senantiasa tertoreh dalam sejarah politik Indonesia. Dari lingkungan religius dan cendekia seperti inilah Rohana dilahirkan.

Rohana juga aktif dan mahir dalam dunia kepenulisan. Kepandaiannya dalam dunia tersebut, ia warisi dari ayahnya yang merupakan seorang pegawai Pemerintahan Belanda. Dalam sejarah kiprahnya dalam dunia kepenulisan, pada 10 Juli 1912, Rohana mendirikan surat kabar Sunting Melayu yang diterbitkan tiga minggu sekali. Rohana juga tercatat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) sampai tahun 1920 an. Surat kabar tersebut merupakan pusat kegiatan pemuda putri baik yang berstatus gadis maupun yang telah bersuami. Di dalamnya berisi politik, anjuran kebangkitan perempuan Indonesia dan cara menyatakan pikiran para penulisnya dalam bentuk prosa dan puisi.

Selain Sunting Melayu, karya-karya jurnalistik Rohana Kudus juga tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia. Pada 25 Agustus 1974, Rohana Kudus memperoleh gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis pers oleh pemerintah atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik.

Pada 11 Februari 1911, Rohana Kudus bersama 60 orang perempuan termasuk isteri para tokoh adat dan agama Koto Gadang menggagas pembentukan Vereeniging (merupakan bahasa Belanda yang berarti perkumpulan) “Karadjinan Amai Satia” di Kota Gadang. Ia terpilih sebagai presidennya. Perkumpulan Karadjinan Amai Satia (KAS) Koto Gadang ini bertujuan untuk Memajukan perempuan di Koto Gadang dalam berbagai aspek kehidupan dalam rangka mencapai kemuliaan seluruh bangsa. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Vereeniging Karadjinan Amai Satia membuka sekolah yang diberi nama Sekolah Karadjinan Amai Satia.

Sekolah Karadjinan Amai Satia yang bertempat di Koto Gadang tercatat sebagai sekolah perempuan pertama yang dibuka di Minangkabau. Sekolah formal kolonial memberi batasan umur kepada murid-muridnya, Sekolah Karadjinan Amai Satia memberi kebebasan kepada perempuan mana saja yang ingin belajar di sekolah ini. Karena itulah tidak aneh jika murid-muridnya ada yang masih anak-anak dan remaja perempuan, serta ibu-ibu dan perempuan dewasa yang belajar bersama-sama.

Rohana juga mendirikan sekolah keterampilan perempuan bernama Roehana School di Bukittinggi pada tahun 1917. Kecintaan Rohana akan pendidikan telah mendorongnya untuk mengajarkan baca-tulis kepada teman-temannya dan juga anak-anak dan remaja di Simpang Tonang, Talu Pasaman saat ia masih berumur 8 tahun (tahun 1892). Roehana School sendiri digagas dalam rangka untuk melawan orang-orang yang tidak menginginkan Kerajinan Amai Setia berkembang.

Sebagai pendiri media yang anti Belanda, kehadiran Rohana Kudus dianggap sebagai ancaman. Tulisan-tulisan yang diterbitkan Rohana sangat keras melawan Belanda, sehingga negeri tulip tersebut enggan memberikan dukungan. Berbeda halnya dengan Kartini, citra baik Belanda tergambar dalam surat-menyuratnya dengan Mdm Abendanon. Belanda pun menasbihkan Kartini sebagai tokoh emansipasi meskipun rela dipoligami.

Dewi Sartika dan ‘Kaoetamaan Istri’

Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di Kota Bandung. Pemilik nama lengkap Raden Dewi Sartika ini lahir dari pasangan Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Rajapernas. Dewi Sartika mempunyai silsilah keluarga yang baik dan terpandang dari ayah dan ibunya. Ayah Raden Dewi Sartika, Raden Rangga Somanagara adalah salah seorang putra dari perkawinan Raden Demang Suryadipraja dengan Raden Ayu Komanagara. Adapun kakeknya dari garis ayah yang dikenal sebagai mantan Hoofd Djaksa (jaksa kepala) di Bandung. Sementara ibunya, merupakan salah seorang putri dari Raden Arya Adipati Wiranatakusumah IV yang pernah menjabat sebagai bupati Bandung (1846-1874) dan lebih dikenal dengan sebutan Dalem Bintang, karena pernah mendapat Bintang kehormatan sebagai penghargaan atas jasa-jasa memajukan daerah yang dipimpinnya dari Pemerintah Kolonial Belanda.

Dewi Sartika mengenyam pendidikan dasarnya di Sekolah Kelas Satu (Eerste Klasse School). Sekitar tahun 1915 sekolah ini dikembangkan menjadi Hollandsch Inlandsche School (HIS) sekolah dasar. Di sekolah Kelas Satu itulah Dewi Sartika belajar membaca dan menulis, bahasa Belanda dan lainnya. Bertemu dengan anak-anak laki-laki maupun perempuan bangsanya sendiri dan bangsa Belanda. Dewi Sartika merupakan salah satu murid yang pintar dan rajin di sekolah tersebut, sungguh-sungguh belajar dan banyak disukai oleh teman-temannya.Namun sayangnya, Dewi Sartika terpaksa meninggalkan sekolahnya (hanya sampai kelas 2) karena musibah yang menimpa ayahanya Raden Rangga Somanagara, beliau dituduh sebagai pelopor pemberontakkan yang akan menggulingkan kedudukan Bupati Bandung pada masa itu.

Ketika ibunya pulang dari pengasingan (bapaknya meninggal di Ternate), Dewi Sartika kembali lagi ke Bandung menyusul ibunya. Ketika itulah Raden Dewi Sartika menyusun buku terkait dengan kepeduliannya terhadap perempuan, buku yang ditulisnya itu juga berjudul ‘Kaoetamaan Istri’. Buku tersebut ditulisnya pada tahun 1911. Tujuh tahun setelah ia mendirikan ‘Sakola Istri’. Buku yang ditulis dalam bahasa Sunda itu kemudian diterbitkan tahun 1912, oleh A. C. NIX & Co.

Setidaknya, menurut Dewi Sartika dalam bukunya, terdapat tiga hal utama yang menjadi dasar keutamaan seorang perempuan. Yakni berdasarkan bangsanya, adat dan kebiasaan, serta pendidikan yang ditanamkan sejak kecil;

“Namun yang paling penting lagi, satu hal, yakni memahami dan selalu ingat menjalankan kewajibannya sebagai seorang perempuan”.

Dalam bukunya, Dewi Sartika menyampaikan bahwa ‘kautamaan’ seorang perempuan juga ialah menjadi seorang yang hebat yakni terdidik dan cerdas, agar bisa ikut mencerdaskan generasi penerus mereka.

Pada 16 januari 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah diberi nama Sekolah Khusus Kaum Wanita (Sekolah Istri). Tahun 1909 sekolahnya meluluskan angkatan pertama, dan saat itu pula bangunan berganti nama menjadi “Sakola Kaoetamaan Istri”. Selain keterampilan khusus wanita, disisipi juga dengan pelajaran agama Islam, berhitung, Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda serta ilmu kesehatan yang diajarkan oleh perawat Situsaeur bernama L. van Arkel.

Pada tahun 1929, tepatnya saat Ulang Tahun ke-25 Sakola Kaoetamaan Istri, Pemerintahan Belanda memberikan penghargaan kepada Dewi Sartika dengan gelar Orde van Oranje-Nassau sebagai jasanya dalam memperjuangkan pendidikan kaum wanita Sunda.

Mengapa Kartini yang Dikenal?

Dari penjelasan dan pemaparan dua tokoh perempuan yang semasa dengan Kartini, terbesit sebuah pertanyaan bahwa mengapa harus Kartini yang diperingati hari lahirnya sebagai hari nasional? Mengapa hanya kartini yang sampai sekarang kita kenal sebagai sosok pahlawan nasional dengan perjuangannya sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia? Padahal masih banyak perempuan hebat dan tangguh pada zamannya yang juga turut andil dalam memperjuangankan derajat wanita, khususnya dalam dunia pendidikan.

Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat.

Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis:

”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”

Sebagaimana disebutkan di awal tulisan, bahwa semasa pingitan, Kartini kerap kali melakukan korespondensi dengan teman-temannya dari Belanda yang berdarah Yahudi. Dr. Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis).

Ny. Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” yang sampai saat ini kita kenal dengan sebutan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Okultisme sendiri merupakan ajaran yang banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny.Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.

Berikut surat-menyurat Kartini dengan Ny. Abendanon yang dinilai mempunyai pemikiran Theosofi:

”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen?Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).
 
”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna…” (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).
 
”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain” (Surat 31 Januari 1903).
 
”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).
 
”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).
 
”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902). Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Kartini merupakan salah satu bukti bahwa sejarah bisa direkayasa sesuai dengan kepentingan pribadi. Sejak dulu sejarah menjadi bagian terpenting dalam membaca dan memahami alur dan arus sebuah peradaban. Di zaman modern ini, Kartini adalah sosok emansipasi dan sejarah yang didistorsi. Lalu, masihkah mengidolakan Kartini?

DAFTAR PUSTAKA :


Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia: Menelusuri Jejak Aliran Kebatinan Yahudi Sejak Masa Hindia Belanda Hingga Era Reformasi, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2010.

Daryono, Yan, Sang Perintis: R. Dewi Sartika, Bandung, Yayasan Awika & PT. Grafitri Budi Utami, 1996.

Fitriyani, Rohana Kudus, Perempuan Sumatera Barat , Jakarta , Yayasan Jurnal Perempuan, 2011.

Fitriyanti, Roehana Koeddoes: Perempuan Menguak Dunia,Jakarta: Yayasan d’Nanti, 2013.

Kartini, R.A, Habis Gelap Terbitlah Terang, Terjemahan Armijn Pane, Cetakan kedua puluh tujuh, Jakarta, PT. Percetakan dan Penerbitan Balai Pustaka, 2009.

Kowani, Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1986.

Zakiah, Lina, Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Dewi Sartika, Jakarta (Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah), 2011.

https://nasional.kompas.com/read/2017/04/25/20293871/kartini.dan.bung.karno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *