RAMADHAN PERDANA DI NEGERI ALI JINNAH

Awal tahun 2022 ini dimulai dengan segala hal yang baru. Sebagai mahasiswa/i Indonesia yang melanjutkan pendidikan di belahan bumi yang berbeda, memantapkan segalanya adalah hal utama karena akan menghadapi realita kehidupan yang berbeda, dalam kata lain beradaptasi penuh dengan keadaan yang akan dijalani beberapa tahun kedepan. Negara yang memiliki arti Daratan Suci ini memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi budaya, makanan, adat istiadat dan hukum, serta pakaian. Yang menjadi fakta menarik dan jarang diketahui oleh banyak orang, Pakistan merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar kedua di dunia setelah Indonesia.

Pakistan merupakan salah satu negara yang memegang nilai-nilai religiusitas yang kuat, hal ini dibuktikan dengan aktivitas penduduk negara tersebut dalam kancah keseharian mereka baik itu aktivitas individu maupun kolektif berjamaah). Terkenal dengan keramah-tamahannya, terlebih lagi kepada warga negara dari luar negaranya (Orang yang bukan warga negara Pakistan (Foreign) atau turis mancanegara). Terlebih lagi ini menjadi salah satu ajaran agama Islam, yaitu memuliakan sesama (tamu).

Pakistan merupakan salah satu negara yang memegang nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas yang kuat, hal ini dibuktikan dengan aktivitas masyarakat negara tersebut dalam kancah keseharian mereka baik itu aktivitas individu maupun kolektif berjamaah. Terkenal dengan keramah-tamahan masyarakatnya (Hospitality) kepada orang yang bukan warga negara Pakistan itu sendiri (Foreign) atau kepada turis mancanegara. Sikap ramah-tamah masyarakat Pakistan kepada foreign atau turis mancanegara tersebut disebabkan karena hal tersebut merupakan manifestasi dari kuatnya nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas yang mereka pegang. Dalam benak masyarakat Pakistan bahwasannya setiap orang yang datang ke negaranya adalah tamu, dan setiap tamu dalam ajaran agama Islam itu harus dimuliakan.

Secara geografis Pakistan adalah negara subtropis, dengan empat musim yang dimilikinya dan selalu beriringan setiap tahunnya. Beberapa tahun sebelumnya Ramadhan di Pakistan bertepatan dengan musim panas, meskipun pada tahun ini pun demikian akan tetapi pada permulaan Ramadhan tahun ini masih terhitung terletak di musim semi. Di tahun ini jatuh di bulan April yang bertepatan pada Musim Semi dengan suhu di awal pergantian musim berkisar 25-27 derajat celcius dan mulai meningkat hingga hari ini menjadi 35-37 derajat celcius dan lama puasa yang kami jalani sekitar 15 jam setiap harinya. Tidak berbeda jauh dari Indonesia, kami melakukan sahur pada pukul 04.29 pagi dan berbuka pada pukul 18.30 malam.

Secara geografis Pakistan adalah negara subtropis, dengan empat musim yang dimilikinya dan selalu beriringan setiap tahunnya. Pada tahun ini Ramadhan jatuh bertepatan pada permulaan bulan April, karena faktanya dalam beberapa tahun yang lalu Ramadhan selalu jatuh dan bertepatan dengan musim Panas. Menurut perhitungan bahwasannya permulaan bulan April itu masih tergolong musim semi, meskipun pada akhir-akhir Ramadhan nanti akan memasuki musim panas.

Seiring dengan masuknya musim panas tersebut berimbas juga dengan suhu cuaca dan durasi puasa yang akan kita tunaikan, jika di permulaan Ramadhan suhu udara dan durasi puasa bisa dikatakan cukup stabil. Akan tetapi perubahan suhu udara dan durasi puasa akan

berubah secara signifikan ketika memasuki musim panas, dan itu akan kita rasakan di penghujung akhir Ramadhan nanti. Suhu yang bisa menyentuh angka empat puluh derajat celcius sangat rentan mengakibatkan dehidrasi akut, begitu juga durasi puasa akan menyentuh angka lima belas sehari.

(Bukankah lebih elok jika dipenggal menjadi dua paragraf seperti ini? Supaya dalam satu paragraf itu tidak terlalu panjang) Jika ditanya bagaimana perasaan mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah puasa di negara yang jaraknya bermil-mil dari Indonesia sebenernya perasaan sedih yang dirasa tak terlalu terasa walau keluarga yang menjadi alasan. Akan tetapi yang dirasa saat datangnya bulan Ramadhan pada tahun ini adalah rasa syukur yang berlimpah karena dapat berjumpa dan menjalankannya walaupun di negeri orang.

Sama seperti halnya penduduk Indonesia yang dimana selalu mempersiapkan kebutuhan sehari-hari sebelum datangnya bulan Ramadhan, masyarakat sekitar pun mempunyai ciri khas yang sama. Beberapa hari sebelum Ramadhan, Bazaar, pasar dalam bahasa Urdu menjadi sangat padat dengan pembeli yang akan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka selama Ramadhan. Tak hanya dipenuhi oleh masyarakat lokal, kami para mahasiswa/i yang dimana juga semangat menyambut bulan Ramadhan ikut serta dalam kerumunan para pembeli tersebut. Ramainya Bazaar semakin meningkat saat matahari mulai tenggelam hingga datangnya malam. Beberapa kedai pun tutup lebih awal dibandingkan kedai-kedai tetangganya, dikarenakan dagangan yang mereka jajakan telah habis terjual.

Memasuki hari pertama Ramadhan ada satu kegiatan yang telah menjadi konsensus penghuni hostel, konsensus tersebut terjalin antar mahasiswa/i penghuni hostel baik itu dari Indonesia, Thailand, China dan Afghanistan. Sebuah konsensus tahunan antar penghuni hostel terkait pelaksanaan shalat tarawih, pada tahun ini pelaksanaan shalat tarawih dilangsungkan di prayhall hostel serta yang menjadi imam dan khatib adalah mahasiswa/i terpilih dari setiap negara penghuni hostel.

Awal Ramadhan Kali ini sungguh sangat bertepatan dengan Midterm, ujian tengah semester para mahasiswa/i International Islamic University Islamabad (IIUI). Suasana Ramadhan yang padat dengan aktifitas di pagi hari berlanjut hingga datangnya malam, dimana diisi dengan persiapan untuk ujian hari selanjutnya.

Walau terik matahari yang menemani Ramadhan kami, ibadah puasa tetap kami jalankan dengan semestinya. Pada bulan nan suci ini, dibentuk juga sebuah kepanitian khusus yang akan mengatur segala kegiatan yang akan diselenggarakan selama sebulan penuh. Panitia Bulan Ramadhan (PBR) namanya, salah satu tujuan dibentuknya kepanitiaan ini tidak lain adalah menyelenggarakan webinar-webinar dengan berbagai tema untuk mengisi waktu sebelum adzan Maghrib berkumandang serta menyediakan takjil untuk berbuka puasa di hari-hari tertentu. Serta, tujuan lainnya adalah menyelenggarakan buka bersama dengan pihak kedutaan besar republik Indonesia (KBRI) di Islamabad. Setelah selesainya ujian, aktivitas kami tak berbeda dari hari-hari biasanya. Kegiatan perkuliahan tetap berjalan sebagaimana mestinya, hanya saja perubahan jam kegiatan belajar mengajar lebih singkat daripada hari biasanya.

Jika melihat di Indonesia masih ada saja beberapa kafe atau restoran yang memilih untuk buka sejak pagi di bulan Ramadhan. Lain halnya dengan keadaan di Pakistan, terutama Islamabad yang baru saja saya ketahui. Jam buka kafe atau restoran serta tempat makan mana

pun dimulai pada sore hari hingga malam hari. Mungkin tidak semua tempat memilih tutup pada waktu tersebut, tetapi sangatlah sulit untuk menemukan tempat makan yang buka terutama pada siang hari. Mereka (penduduk lokal) sangatlah menghormati bulan Ramadhan serta yang menjalankan ibadah di dalamnya.

Beberapa kendala yang kami hadapi salah satunya menyesuaikan waktu sahur yang tak banyak tetapi cukup waktu untuk mempersiapkan santapan sahur. Beberapa kendala lain mungkin saat habisnya bahan makanan yang mengharuskan untuk membeli. Untuk kendala rindunya masakan Indonesia, sebenarnya tidak terlalu dikhawatirkan. Beberapa pelajar Indonesia menjual makanan lokal Indonesia dengan beragam. Kekeluargaan yang kuat pun dapat mengobati rasa rindu pada keluarga dan Indonesia.

Beradaptasi dengan lingkungan yang baru membuat kita harus memaksakan diri untuk menyesuaikan dengan keadaan setempat. Kehidupan di asrama dengan berbagai kewarganegaraan membuat kita mengenal serta mempelajari secara tidak langsung kehidupan mereka dan begitu juga sebaliknya. Semoga Ramadhan tahun ini sekaligus Ramadhan perdana di negeri orang dapat kami lalui dengan lancar.

Oleh : Fadhilah Az-Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *