Pilihan Atau Takdir

Perumpamaan manusia hidup di dunia ini seperti meneguk air. Banyak masalah menghampiri kita. Atau bahkan kita yang menghampiri masalah. Tidak ada manusia yang hidup terlepas dari masalah. Ada juga yang bilang bukan hidup kalau tidak ada masalah. Dari masalah terkecil sampai masalah yang terbesar, dari masalah yang ringan sampai masalah yang berat, dari masalah pribadi sampai masalah umum. Dari masalah-masalah seperti itu kita dihadapkan dengan sebuah pilihan atau takdir. Jika pilihan yang kita ambil benar, insha Allah kita akan mendapatkan keberuntungan. Namun, jika kita memilih pilihan yang salah, maka ketidakberuntunganlah yang kita dapatkan pada akhirnya. Hidup tak pernah lepas dari pilihan atupun takdir.
Nah, di sini kita dituntut untuk mampu menangani masalah-masalah hidup dan mencari solusinya. Hidup ini untuk mencari pilihan atau kita yang dipilihkan? Hidup adalah takdir atau kita yang mentakdirkan? Disini, saya akan mengulas sedikit bagaimana cara kita ketika kita dihadapkan dengan pilihan atau takdir.
Pilihan merupakan sesuatu dimana kita harus memilih salah satu dari beberapa gambaran yang diajukan, entah dalam bentuk opini, tulisan, wacana, ataupun hanya ada dalam benak pikiran dan hati kita.
Sedangkan takdir merupakan ketentuan yang diberikan oleh Allah SWT.

Takdir terbagi menjadi dua, takdir yang bisa dirubah dan takdir yang tidak bisa dirubah. Disini saya akan mengulas satu kejadian yang berkaitan dengan pilihan dan takdir.

Mahasiswa yang melanjutkan kuliah di luar negeri.
Apakah pilihan atau takdir?

Mau tau jawabannya……?
Mahasiswa yang melanjutkan kuliah di luar negeri bisa dikatakan itu adalah sebuah pilihan atau mungkin juga bisa dikatakan sebagai takdir. Mengapa dikatakan pilihan? Ketika ia lulus dari SMA/Pondok, maka ia dituntut untuk menentukan pilihan, akan melanjutkan kemana kuliah nanti. Ke luar negeri? Atau di dalam negeri? Disini banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan dan apa yang kita dapatkan setelah lulus nanti. Ketika ia sudah memilih untuk melanjutkan kuliah di luar negeri maka ia sudah tahu pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan dan apa yang harus dibawa setelah lulus nanti ke negara asal. Pilihan yang cukup berat ketika ia harus meninggalkan keluarga, sanak saudara, teman, atau mungkin orang yang dikasihinya walau hanya untuk sementara demi menuntut ilmu dan mencapai keinginannya. Ketika ia sudah mencapai keinginannya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri maka situasi, kondisi, masalah ataupun yang lainnya sudah menjadi tanggung jawab bagi ia sendiri. Karena ia sudah memilih pilihan tersebut dan secara tidak langsung dituntut untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi pilihannya.

Bagaimana jika kita mengatakan ini adalah sebuah takdir? Wallahu a’lam bis showab. Mungkin ini juga merupakan takdir Allah yang diberikan kepada kita. Jalan terbaik yang diberikan kepada kita. Mungkin karena dengan ini, kita bisa mengerti apa arti hidup yang sebenarnya. Ketika kita jauh dari kelurga, sanak saudara, teman, ataupun orang yang dikasihinya, kita harus mandiri, tidak bergantung kepada orang lain, dan kita dilatih untuk bagaimana bisa bertahan hidup di negara lain, dan yang pasti kedekatan kita kepada Allah SWT akan selalu mengingatkan kita, karena hanya Allah SWT lah tempat yang paling terbaik kita mengadu. Ketika kita dihadapkan berbagai masalah, hanya Allah lah tempat sandaran kita, tempat untuk meminta, tempat untuk memohon pertolongan, dan tempat kita untuk menangis.

Dari kejadian tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa pilihan ataupun takdir (yang bisa dirubah) merupakan sesuatu yang berkesinambungan satu sama lain. Pilihan merupakan hal yang tidak bisa kita pungkiri dalam menghadapi kehidupan. Dan takdir merupakan hal yang harus kita jalani. Dan Allah tidak akan memberikan ujian melewati batas kemampuan makhluknya./BeTa

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (57:22)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *