Pesan AM. Fachir Saat Webinar Hari Santri: Seorang Santri Harus Menjadi Problem Solver di Tengah Masyarakat

ISLAMABAD – Dr. H. Abdurrahman Muhammad Fachir mengatakan bahwa seorang santri itu harus menjadi problem solver di tengah masyrakat. Pasalnya, seorang Santri memiliki keistimewaan tersendiri dalam membawa sebuah perubahan yang lebih baik. Hal itu seperti halnya yang telah diimplementasikan oleh para Tokoh Proklamator dan Perumus berdirinya Bangsa Indonesia yang tidak lepas dari kontribusi dan peran seorang Santri, Ungkap A.M. Fachir yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri.

Pesan yang disampaikan oleh A.M. Fachir sangat berkesan dan memiliki makna mendalam, hal itu beliau sampaikan dalam acara Webinar Hari Santri yang digelar oleh KBRI Pakistan yang bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Pakistan, Sabtu (30/10). Point of view yang disampaikan AM. Fachir dalam acara tersebut sangat menarik dan patut untuk diimplentasikan khususnya bagi seorang santri yang seyogyanya memberikan banyak manfaat ketika terjun di tengah masyrakat. Beliau juga mengutip kata-kata mutiara dalam bahasa Arab “Khoirunnas ‘Anfa’uhum Linnas”. Artinya, Sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat bagi sesama. 

Bapak Adam Mulawarman Tugio, Selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Pakistan juga turut hadir dalam acara ini, beliau menuturkan bahwa peringatan Hari Santri merupakan refleksi pengakuan Pemerintah terhadap peran penting santri dalam perjuangan kemerdekaan dan juga perjuangan mengisi kemerdekaan Indonesia itu sendiri.

“Pertama, Jadikan perbedaan sebagai sebuah kesyukuran dengan menunjukkan sikap tasamuh/toleransi. Kedua, Jangan kehilangan ke-Indonesia-an selama di luar negeri. Tetap perdalam rasa cinta tanah air dan representasikan sebagai prinsip dan identitas. Ketiga, Jadilah pemuda berjiwa santri yang unggul. Ketika kembali ke tanah air segera mengabdi untuk membangun negeri”. Ujar Pak Dubes

Acara yang bertajuk “Membangun Negeri Dengan Pemuda Berjiwa Santri” ini diikuti oleh diaspora Indonesia di Pakistan. Tak kalah menarik, bahkan Diaspora dari PPI Negara Lain serta mahasiswa-mahasiswa yang berada di Indonesia turut menghadiri acara ini dengan penuh antusias.

“Untuk menjadi seorang Santri, harus memenuhi beberapa hal berikut: Santri itu harus Ikhlas, Pandai Beradabtasi, Tasamuh (Toleran), dan Rahmatan Lil A’lamin”, Jelas A.M. Fachir. 

Beliau juga menegaskan bahwa menjadi seorang santri itu harus memiliki banyak bekal, serta mampu meningkatkan daya saing (kompetitif), baik di dalam maupun di Luar Negeri. Mengingat bahwa Bapak AM. Fachir juga seorang santri yang dulunya pernah mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor selama 6 tahun. Bekal serta nilai-nilai yang didapatkan dari Pesantren beliau explorasikan untuk bisa beradaptasi serta mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara. 

Webinar hari santri tersebut terasa sangat khidmat, karena menjadi momentum untuk muhasabah diri, khususnya bagi diaspora Indonesia di Pakistan yang dominan berasal dari seorang santri. Harapanya, acara ini bisa menjadi langkah dan awal yang baik serta mampu memberikan motivasi kepada mahasiswa, khususnya yang berada di Pakistan, Ungkap Ibnu Fikri al-Ghazali Selaku Ketua PPMI Pakistan. 

Make Your Own Legacy. Yakinlah kita punya masa depan yang cerah kedepannya. Karena kita punya faktor pemersatu, kita menjadi contoh karena kita adalah pemuda-pemuda yang memiliki jiwa Santri.” Ungkap A.M. Fachir dalam closing statement di acara tersebut.

Sheila Nabila Selaku MC dalam acara ini juga turut membawakan acara dengan penuh semangat. Lalu dilanjutkan dengan Moderator, Yaitu Ach Fuad Fahmi, Mahasiswa Sharia and Law di International Islamic University of Islamabad. Acara ditutup dengan Pantun oleh Sheila yang cukup mendapatkan apresiasi dari para hadirin. 

Editor : Farah Fawzyah

Oleh : Widad Nur Fauziyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *