PANDEMI(E)

Semenjak akhir tahun lalu dunia digemparkan dengan sebuah virus yang berasal dari Wuhan, jika dilihat dari sisi geografis Wuhan merupakan ibu kota provinsi Hubei, Tiongkok. Dengan jangka waktu yang terhitung sangat singkat virus tersebut sudah melang-lang benua ke hampir seluruh belahan bumi, mulai dari yang paling selatan hingga ujung utara. Oleh karena itu badan kesehatan dunia atau World and health organization (WHO) mensifati virus ini sebagai sebuah wabah yang sudah sangat merebak luas dimana-mana (Pandemi) serta sangat mengkhawatirkan.

Akan tetapi pada saat sekarang ini Indonesia tidak hanya dihadapkan pada perihal seputar corona saja, di beberapa daerah di Indonesia sekarang ini muncul juga sebuah wabah yang disebabkan dari gigitan nyamuk atau biasa kita sebut senagai Demam Berdarah Dengue (DBD). Akan tetapi dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas perihal DBD tersebut, penulis lebih menekankan pada virus Corona yang saat ini sedang maraknya dan sebuah Pandemi yang sudah lama menjangkiti mayoritas masyarakat Indonesia.

Dengan adanya pensifatan seperti ini dari WHO beberapa negara yang masyarakatnya banyak terpapar virus tersebut saling berlomba untuk membuat sebuah kebijakan dengan tujuan untuk melindungi dan mengayomi mereka. Tak ayal Indonesia juga mulai beritikad seperti itu, mulai dari tekanan untuk melakukan pemeriksaan massal bagi masyarakat Indonesia hingga tuntutan untuk melakukan lock down seperti halnya Italia.

Kebijakan pemerintah Indonesia akhir-akhir ini hanya sebatas himbauan untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah saja. Meskipun sudah ada himbauan seperti itu tidak menyurutkan minat mayoritas masyarakat Indonesia untuk melakukan sebuah perjalanan (liburan), entah sikap tawakal dari masyarakat Indonesia yang sudah sangat berlebihan atau memang masyarakat Indonesia saja yang terkesan apriori terhadap himbauan tersebut.

Padahal himbauan tersebut merupakan kesempatan yang sangat berharga guna menghabiskan waktu lebih lama untuk bercengkrama serta menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah, mulai dari beribadah secara bersama-sama, mengajari anak perihal segala macam urusan hingga makan mie kuah bersama-sama.

Akan tetapi Perlu diperhatikan juga bahwasannya Indonesia merupakan konsumtor mie terbesar kedua di dunia, sebagaimana kanal berita kompas yang dipublish pada bulan September tahun 2018 yang lalu dan bersumber dari World Instant Noodle Association (WINA). Jika kita intip awal mula kemunculan mie ialah sepuluh tahun setelah berakhirnya perang dunia kedua, seorang manusia berkewarganegaraan Jepang membuat sebuah inovasi perihal makanan pokok yang mudah untuk dinikmati.

Awal mula persebaran mie di Indonesia diinisisasi oleh supermie pada tahun 1968 yang lalu dan semenjak saat itulah mie mulai membanjir di Indonesia, bahkan pada saat ini kita bisa mengatakan bahwa mie adalah salah satu sumber makanan pokok di Indonesia. Bagaimana bisa begitu? Coba kita tengok, jikalau terjadi sebuah musibah di Indonesia khususnya akan sangat mudah kita jumpai bahwasannya bentuk bantuan dari pemerintah yang sangat masif ialah berupa mie. Apakah bisa sifat candu masyarakat Indonesia terhadap mie ini dikatakan juga sebagai pandemi? Terlepas dari makna yang diberikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), serta tulisan ini hanya bersifat subyektifitas penulis saja.

#Pandemi #Covid-19 #Corona #Pakistan #PPMIPAKISTAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *