Di era disrupsi ini, penting kiranya bagi kita untuk merefleksikan nilai dan falsafah dari hari Pahlawan. Hal itu perlu kita tumbuhkan agar ruh perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan seorang pahlawan tidak tereduksi dari pikiran kita sebagai generasi harapan bangsa. Berbicara soal pahlawan, masing-masing dari individu mempunyai sudut pandang dan terminologi yang beragam dalam memaknai kata ‘Hero’ atau ‘Pahlawan’. Dalam Cambriage Dictionary ‘Hero’ diartikan “A person who is admired for having done something very brave or having achieved something great. Sedangkan di dalam KBBI, yaitu “Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani”. Oleh itu, seorang pahlawan adalah mereka yang memiliki keberanian, bermental pejuang, dan tidak getir dalam menghadapi arus serta tantangan zaman.

Mengenang hari pahlawan, kita secara eksplisit diajak untuk menelusuri rekam dan jejak sejarah yang pernah diukir oleh orang-orang tedahulu yang pernah memiliki andil dan kontribusi dalam memajukan eksistensi bangsa, negara, dan agama. Misalnya adalah Raden Hajdi Oemar Said Tjokroaminoto yang merupakan salah satu tokoh pahlawan Pergerakan Nasional di Indonesia yang tidak sedikit perjuangan, pengorbanan, serta kontribusi beliau untuk kemajuan Indonesia.

Selain pernah mengkritik penjajah belanda dengan senjatanya yaitu tulisan di surat kabar bintang surabaya, HOS Tjokroaminoto juga telah melahirkan (mendidik) anak didiknya hingga menjadi Presiden pertama di Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Hingga pesan yang masih familiar dari beliau yang masih renyah didengar sampai saat ini adalah, “Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”. Pesan tersebut menyiratkan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin (pahlawan) harus memiliki kompentensi dalam dunia tulis-menulis dan kelihaiannya dalam berorasi.

Sikap ketegasan dan kelihaiannya dalam berorasi menjadikan HOS Tjokroaminoto disegani oleh para penjajah saat itu. Beliau mampu memberhangus adanya ketidakadilan dan perlakuan buruk pemerintah Hindia Belanda dalam mendeskriminasi masyarakat pribumi pada saat itu. Kegigihan beliau patut kita apresiasi, karena beliau tampil sebagai sosok yang menyuarakan kebenaran, keadilan, serta kepeduliaan kepada pribumi saat itu.

Karena ketegasan dan kewibaanya beliau dikenal oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu dengan julukan Raja Jawa tanpa Mahkota. Hal itu, karena Sosok Cokro mampu menyatakan kebenaran di saat ia di pihak yang benar, dan menindak ketidakadilan perilaku penjajah dengan menyediakan solusi untuk pribumi  dengan didirikannya SDI (sarekat Dagang Islam) agar tidak terjadi perlakuan diskriminatif dan kecurangan yang dilakukan penjajah kepada pribumi. Namun perlu diingat bahwa sosok Pahlawan Seperti HOS Cokroaminoto menjadi angin segar serta teladan rakyat Indonesia kala itu dalam mewujudkan negara yang adil dan makmur. Ia bahkan rela dibenci dan dicaci oleh penjajah demi menjaga harga diri bangsanya.

Dalam konteks permulaan sejarah Islam, sosok agung Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassallam juga menjadi pahlawan ideal (Great Hero) yang sifat kejujuran, keadilan, dan akhlaq mulianya yang banyak didambakan umatnya hingga akhir zaman. Hal itu bisa kita ulas sejarahnya ketika Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah terang-terangan namun mendapat pertentangan dari kaum Quraisy. Bahkan, para pemuka Quraisy menuduh Nabi Muhammad gila dan sempat melemparkan kotoran ke tubuh Nabi.

Termasuk yang menentang dakwah Nabi Muhammad SAW adalah sang paman, Abu Jahal dan Abu Lahab. Selain itu, Bersama kaum kafir Quraiys Abu Jahal dan Abu Lahab menentang habis-habisan dakwah Rasulullah dan mengintimidasi pengikutnya. Mereka khawatir ajaran yang dibawa Muhammad bisa merusak agama nenek moyang kaum Quraisy yakni menyembah berhala.

Melihat fenomena penolakan dari kaumnya, Nabi Muhammad tetap tegak dalam menyuarakan kebenaran (wahyu) sesuai dengan perintah (amr) dari Allah SWT. Meskipun cacian, hinaan, dan siksaan yang bertubi-tubi melukai tubuh beliau, beliau tetap semangat dalam menghadapi tantangan dakwah li’ilali’ kalimatillah. Inilah sosok pahlawan yang menjadi tauladan bagi umat, perjuangan dan pengorbanan beliau menjadikan syiar-syiar Islam berkembang pesat hingga ke seluruh antero dunia. Hal itu bisa terealisasikan karena Baginda Nabi mampu menyatakan kebenaran di tengah-tengah kebathilan yang merajelala, bukan membenarkan kenyataan mereka (kafir quraiys) yang justru akan meredupkan semangat dakwah Islam.

Jika dulu baginda Nabi menyuarakan kebenaran disiksa dan dicaci oleh kafir Quraisy, bagaimana dengan sekarang?, seolah menyuarakan kebenaran menjadi hal yang ditakuti oleh beberapa kalangan, karena akan berbuah ancaman dari mereka yang merasa dirugikan. Semoga di hari pahlawan ini, suara kebenaran semakin menggema di seluruh antero negeri guna terwujudnya negara Indonesia yang adil dan makmur. Mengutip pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam buku yang berjudul Allamatnil Hayat (Kehidupan Mengajariku) bahwa kita harus berani menyatakan kebenaran, bukan membenarkan kenyataan. Karena kalimat inilah yang menjadi landasan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah, serta HOS Cokroaminoto dalam menyelamatkan bangsa Indonesia dari penjajah.

Oleh karenanya, kita sebagai generasi masa depan bangsa harus cerdas dalam membaca sosok pahlawan yang sekiranya bisa kita jadikan public figure serta tauladan bagi kita. Meskipun kita tidak bisa menjadi seperti pahlawan-pahlawan yang sudah memberikan kontribusinya untuk bangsa bahkan dunia, setidaknya kita mampu mengikuti rekam dan jejak sumbangsihnya untuk umat. Wallahu’alam Bisshawab.