NOTULENSI WEBINAR ALUMNI BERCERITA, PPMI PAKISTAN

Dengan Tema : Pengalaman Hidup di Negeri Ali Jinnah

Hari dan Tanggal : Jum’at, 19 Februari 2021

Waktu : 16.00 WIB / 14.00 PKT

Tempat : Via Zoom Meeting

Materi : Pengalaman hidup di negeri Ali Jinnah

Narasumber :
1. Al-Ustadz Dr. Amir Faishol Fath, M.A.
2. Al-Ustadz Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, M.A.
3. Ustadzah Kamilia Hamidah, M.A

Moderator : Muhammad Fahmi, S.Fil.I

Panelis :
1. Mohammad Dhia Ul-Haq
2. Fina Farhani

Notulen :
1. Zahra Alya Nazhifa
2. Nabilla Nurrahmah

Sambutan dari Al-Ustadz H.Hendri Tanjung, M.Phil, Ph.D. (Ketua Forum Alumni Pakistan)

  • Dalam pertemuan ini kita bisa bersilaturahmi dengan yang sudah menjadi tokoh maupun para alumni dengan para mahasiswi dan mahasiswa.
  • Silahkan di gali lagi kiat- kiat belajar di Pakistan.
  • Ada 2 hal yang membuat kita tidak melupakan sesuatu :
    • Senang sekali
    • Susah sekali
  • Kira kira kita mengenang Islamabad karena apa?

“Belajar lah sungguh sungguh karena orang sukses  tidak lahir dari kemalasan ” dan Pelajarilah dari apa yang di contohkan tokoh tokoh.

Cerita dari Narasumber pertama (1) : Al- Ustadz Dr. Amir Faishol Fath, M.A.  

  • Dulu saya waktu menginjakan kaki di Islamabad masih 10 orang tahun 1989 saya sampai di Islamabad , pusat perkuliahan masih di Faishal Masjid  bertempat di stara market , yaitu bangunan yang atasnya tempat tinggal dan di toko-toko , ada samosa, chai dan paratha. 
  • Dari segi belajar santai tapi bernuansa islami , seakan hidup di pesantren besar . Yang mana kita di sana jarang melihat aurat , dan sore hari menghafal Al-Quran, setelah itu pindah ke Kuwait hostel ,yang paling saya ingat itu ketika bulan puasa di Musim panas yang panasnya sampai 48 derajat , ketika di Kuwait saya memakai handuk yang saya beri air sampai ke mata kaki. Kesempatan di Islamabad lebih bagus berteman dengan orang-orang yang bahasanya bagus dan itu merupakan kesempatan yang luar biasa.
  • Disini saya hidup merasa senang karena tidak ada jarak antara mahasiswa dan kbri , setelah menikah saya bolak balik ke Saudi untuk bekerja. Kita sempat bertemu tokoh tokoh dunia di Pakistan dan salah satu cara terbaik untuk membuka wawasan. 
  • Dulu dosen jarang memberikan dikte dan murid yang menulis dan mencari kitabnya di perpustakaan, dosen dosen Pakistan sendiri menyukai murid yang mampu mengekspresikan materi sebanyak banyaknya. 
  • Di saat yang sama, saya ingin memberi tips cara menulis thesis , saya waktu itu 15 kitab tafsir saya rangkum setelah itu saya kaji dan saya jadikan kacamata tinggal saya pasang point point nya.
  • Pesan saya adalah telitilah dan berpegang teguhlah dengan apa yang sudah kita pelajari karena itu akan membuat kita berpendirian.

Cerita dari Narasumber kedua (2) : Al-Ustadz Prof.Dr.H.Husnan Bey Fananie, M.A

  • Saya datang ke Pakistan akhir tahun 1987 dan langsung ke Karachi, di awali dari pendaftaran IIUI, saya mengikuti ujian di kedutaan Pakistan di Jakarta bersama sahabat saya Ustadz Udin Kamaludin dan Ustadz Imam Bahroni dan alhamdulillah lulus . Di Karachi saya sempat terkatung katung sampai akhirnya di bantu teman teman, sampai adanya info mahasiswa Indonesia ada di sana pergilah saya dari Karachi ke Lahore dan lanjut ke IIUI, ternyata saya tidak seberuntung teman teman IIUI, seat saya sudah di isi orang lain dan anak anak yang tidak masuk di IIUI di tampung di Kuwait mosque.
  • Saya mendaftar diploma 1988-1991 , NAML saya berfikir bahwa di negeri asing kalau cuma belajar di tempat kuliah saja itu sama saja tapi apa yang berbeda? Yaitu ketika kita di Pakistan dengan mengambil banyak hal yang tidak bisa kita ambil di tempat lain, begitupun tokoh tokoh penggerak Islam di Pakistan , kemudian di Punjab University, saya mengambil Bs.
  • Perjalanan saya di Pakistan ada senang dan ada sulitnya juga. Dan saya bekerja di Saudi Arabia dengan membawa barang Pakistan. 
  • Saya melukis sampai 10 lukisan dan saya 6 thn tidak pulang ke Indonesia karena bagi saya “Kita lahir di indonesia, keluarga kita di Indonesia, kapan kita bisa mensyukuri nikmat Allah yang telah menciptakan bumi yang luas”.

Cerita dari Narasumber ke 3 (Ustadzah Kamilia Hamidah)

  • Islamabad bisa dibilang kota laki laki. Karena kita kemana mana harus dikawal laki laki.
  • 28 Agustus 1999 itu saya datang ke Islamabad. Setelah itu kudeta militer
  • Saya masuk kampus itu pas masa transisi kampus. Kampus putri ditempatkan di madinatul hujjaj. Uniknya, airnya itu digilir di asrama madinatul hujjaj. Dan dalam waktu tertentu itu sampai ada musim lalat.
  • Waktu itu masih tahun kedua IIUI buka fakultas social sciences tapi bukan untuk BS. Satu satunya mahasiswi asing disitu. Tidak jarang dosen menjelaskan dengan bahasa urdu.
  • Dosen dosen disini kita ditekan untuk menulis banyak. Dituntut untuk terus menulis.
  • Perempuan yang kuliah diluar negeri itu dinamikanya beda. Kita perempuan harus tetap yakin, selama ada kemauan kesempatan itu akan selalu ada. Dan jangan pernah mengukur pencapaian orang lain dengan pencapaian kita karena semuanya pasti berproses.
  • Saya punya blog sampai 15 karena setiap kuliah selalu dituntut untuk menulis. Dan akhirnya saya memposting tulisan tulisan saya di blog saya. Dari tulisan saya itulah saya mendapatkan tambahan tambahan penghasilan. Karena kurang memungkinkan bagi saya waktu itu untuk berjualan seperti ustadz amir dan ustadz hendri.
  • Saya setiap pagi mendengar meriam dan selalu melihat tentara tentara di depan mata saat di Islamabad.
  • Yang perlu kita khawatirkan itu ketika kita berhenti belajar. Setiap perempuan jika mau melakukan sesuatu pasti akan ada negosiasinya. Yang terpenting hanya kita mau memulai atau tidak.
  • Menjadi perempuan memang tidaklah mudah, pesan saya.. jangan pernah lewatkan kesempatan yang ada didepan mata! Seorang perempuan pasti juga bisa menjadi orang sukses.

Panelis pertama (Mohammad Dhia Ul-Haq)

  • Dulu melodi sangat terkenal karena ada rumah lokal staff, mas Bambang.
  • Dosen Pakistan lebih ke kuantitas jawaban jawaban ujiannya sedangkan dosen dosen yang lainnya lebih ke kefahaman pelajarannya.
  • Membangun relasi itu sangat penting 
  • Momentum acara seperti ini sangatlah mahal. Karena kita sebagai pelajar juga membutuhkan motivasi.
  • Islamic economics yang terbaik itu di Pakistan. 
  • Apakah dengan mengambil s1 sampai s3 disini termasuk keistiqomahan? Dan apakah yang dinamakan keistiqomahan itu?

-dari Ustadz Amir- Kalau saya itu mengambil jurusan yang paling saya sukai yaitu Tafsir Quran. Dan saya mengambil s2 lagi disini karena saya mengisi kekosongan saat libur musim panas. Mengapa saya konsisten ya karena saya tidak punya biaya untuk pulang. Menurut saya tidak pernah bertentangan antara menikah dengan belajar. Yang paling penting yaitu jangan sekali kali pacaran! Pilih peluang

Panelis Kedua (Fina Farhani)

– Kalau ditengah study kita bosan dan goyah, bagaimana cara kita mengatasinya? Solusi dari antum seperti apa? Apalagi kalau urusan dengan lawan jenis ustadzah.

-dari Ustadzah Kamilia- Bosan itu wajar. Dan pesan untuk adik adik banaat yang masih disana, jika memang niatnya mau melanjutkan study dulu.. silahkan selesaikan baru setelah itu boleh serius. Selama belum ada kata serius, berarti tidak usah membawa perasaan lebih

J

Closing Statement dari para narasumber

  • Tujuan kita itu adalah menuntut ilmu disini. In syaa Allah kita bisa menjadi sajarah tayyibah
  • Setiap orang pasti mempunyai kisha cinta. Jangan berlarut dalam cinta, harus realistis. Jika sudah waktunya menikah, menikahlah. Hindarilah mabuk cinta. Karena cinta itu datangnya dari Allah 
  • Diluar negeri banyak kelebihan para ulama dan para tokoh. Biasakanlah berguru kepada mereka, karena para tokoh dan ulama akan membuka wawasan kita. Buku bisa temui dimana tetapi para tokoh ulama tidak bisa kita temui dimana mana
  • Yang harus diingat itu adalah menjaga komitmen untuk menyelesaikan study kita sesuai dengan porsinya masing masing. Misalkan ada kesulitan, kita harus selalu yakin akan ada jalan yang selalu terbuka untuk kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *