Notulensi Kegiatan Diskusi antar Mahasiswa PPMI Pakistan 01

Notulensi Kegiatan


Judul Kegiatan : “Forum Diskusi antar Mahasiswa Menyikapi Insiden Tol Cikampek KM 50”

Mc : Vanda kamila
Sambutan : Ketua Umum Bagus Asri W.
Qori : Aulia Hifdzurrahman
Notulen : Ahmad Ghiffar Ramadhan
Moderator : Izzudin Ilyas
Waktu : 15.25-18.00 PKT

Pembicara :

  1. Sdr. Joni Eko Pranoto (Mahasiswa S1 IIUI dan Aktivis)
  2. Sdr. Arief Rahman Hakim, S.H.I., M.S. (Alumni S2 IIUI Pakistan, Pengamat dan Praktisi Dakwah)
  3. Sdr. Abdurrahman Qosim, B.S., M.S. (Mahasiswa S3 IIUI, Kepala Keluarga dan Praktisi Dakwah)
  4. Sdr. Muhammad Haikal Fathurrizqi (Mahasiswa S1 Jami’ah Internasional Binoria Karachi dan Da’i)

Pendahuluan diskusi :
Insiden berdarah yang terjadi di tol Cikampek pada tanggal 7 Desember 2020 antara anggota FPI dan kepolisan, memakan 6 korban jiwa. Insiden ini mengingatkan masyarakat tentang kejadian kejadian HAM yang terjadi di negara kita tercinta, yang hingga sampai saat ini masih “tergantung” dan belum dirapikan dan dilipat dengan baik. Perbedaan keterangan antara anggota FPI dan kepolisian membuat masyarakat yang menonton rekonstruksi kejadian ini semakin panas, kebenaran dibalik kejadian masih tersembunyi dibalik waktu, atau di sembunyikan di balik saku. Seperti apakah kita seharusnya bersikap? Bagaimanakah kebenarannya?

  1. Joni Eko Pranoto :

-Isu utama di balik diskusi kali ini adalah isu kemanusiaan, bukan hanya di latar belakangi politik saja

-“Tembak mati” yang terjadi antara kepolisian dan warga sipil terasa sangat melukai sisi kemanusiaan, seharusnya yang terjadi bukan tembak mati melainkan tembakan untuk mencederai, kenyataan ini berseberangan dengan fungsi penegakan hukum yang dimiliki polisi yaitu melindungi dan mengayomi masyarakat

-Zaman modern seperti ini masyarakat dituntut untuk terus memperluas pikiran, hingga bisa kritis dalam mengkonsumsi informasi informasi publik

-Tindakan “terukur” yang diutarakan oleh kepolisian adalah dengan menembak mati 6 orang dari FPI

-Kejadian ini secara umum memiliki banyak kejanggalan kejanggalan :
•Baku tembak yang dituturkan oleh kepolisian dinilai tidak valid, karena bukti bekas tembakan korban banyak mengenai organ organ vital tubuh. Para korban juga memiliki bekas pukulan benda tumpul yang mengindikasikan adanya siksaan
•Pernyataan polisi pertama banyak terdapat bias dengan rekonstruksi kejadian
•Kepolisian yang berangkat ke sana tidak memiliki surat tugas

-Kejadian ini oleh pembicara dinilai mencederai keadilan dan kebebasan di Indonesia. Oposisi dibungkam dan kubu lain di anak emaskan. Menimbang banyaknya isu isu lain yang bermunculan terus menerus di Indonesia, mulai dari korupsi yang “diselenggarakan” oleh kabinet kementerian presiden, hingga separatis di tubuh Indonesia yang benar benar melukai kedaulatan negara

-“Aktivis” bukan berarti selalu on the track mengkritik pemerintah (oposisi), aktivis menurut Cak Jon ialah orang yang terus memikirkan dan berkorban untuk masyarakat terlepas dari sisi pemerintah atau tidak.

-(Pembicara mengutip berita insiden ini dari konferensi pers kepolisian, majalah TEMPO dan dari video kanal YouTube fadlizon bersama sekjend FPI)

  1. Arief Rahman Hakim :

-Atas alasan membela dirilah pihak kepolisian mengambil sikap dengan menembak mati 6 anggota FPI (dikutip dari konferensi pers KAPOLDA METRO JAYA)

-Direktur reserse kriminal Polda Metro Jaya mengatakan bahwa pihak kepolisian membenarkan bahwa mereka mengikuti Habib Rizieq, Habib Rizieq sendiri mendapat panggilan polisi sebagai saksi perihal protokol kesehatan ketika hari maulid dan resepsi pernikahan anaknya.

-Karena tempat kejadian ini di Karawang yang notabene berada di Jabar, maka kasus ini dilimpahkan ke mabes POLRI. Setelahnya POLRI melakukan rekonstruksi kejadian (yang status nya belum menjadi rekonstruksi kejadian final)

-Dengan seperti ini kita bisa menyimpulkan bahwa betapa penting untuk dibuatnya tim gabungan pencari fakta. DPR-RI mempunyai tugas pengawasan yang bisa mendorong dibentuknya tim gabungan pencari fakta, namun DPR sekarang justru diisi oleh partai pemenang (pemerintah) yang akhirnya fungsi check and balance belum bisa terlaksana dengan baik

-Prinsip dan asas hukum ialah semua warga Indonesia sama di mata hukum, entah itu mayoritas-minoritas, oposisi-petahana, warga sipil-anggota kepolisian

-Fakta yang disayangkan sekarang salah satunya ialah, ada masyarakat yang membenarkan terhadap kematian warga sipil (6 anggota FPI). Sedangkan suka atau tidak suka menurut pembicara, wujud FPI di Indonesia sudah menjadi dinamika politik nasional, yang notabene banyak suara masyarakat yang merasa terwakilkan oleh FPI. Walaupun FPI mempunyai kesalahan kesalahan yang tidak disukai oleh masyarakat tertentu.

-Silang pendapat :
•Menurut klaim FPI mereka tidak membolehkan membawa senpi maupun senjata tajam bagi anggotanya, berbeda dengan klaim KAPOLDA ketika konferensi pers. *Perlu adanya Crosscheck dari senpi yang di sita polisi dan keterangan anggota FPI yang malam itu selamat

-Kejanggalan-kejanggalan :
•Apakah penguntitan dan penempakan terukur itu sudah memenuhi syarat SOP yang sudah di atur di dalam peraturan?
•Apa dasar hukum penguntitan itu? Seberapa urgensinya kepolisian menguntit keluarga Habib Rizieq?
•Kenapa anggota FPI tidak diborgol?

  1. Abdurrahman Qosim

-Dalam pandangan Islam mutlak haram hukumnya bagi seorang muslim membunuh saudara muslim lainnya, banyak dalil yang menguatkan argumen tersebut

-Keluarga korban merasa sedih, karena ada masyarakat yang membenarkan kematian anggota keluarga mereka secara tidak langsung, dengan hinaan, tertawaan atau hate speech.

-Insiden ini membuat masyarakat yang mengikuti berita tersebut mengerucut setidaknya menjadi 2 kubu utama; Pertama yang memang resistan terhadap Habib Rizieq secara personal dan FPI secaea lebih luas, yang kedua ialah kelompok yang simpatisan terhadap FPI dan masyarakat yang tidak membenarkan kematian warga sipil.

-Pembicara menyarankan kepada keluarga PPMI Pakistan untuk memberikan tindakan atau sikap dan mengawal proses hukum yang terjadi di Indonesia

  1. Muhammad Haikal Fathurrizqi

-Adillah (Dalil-dalil) tentang penegakan hukum yang adil dan pembunuhan
•Surah Annisa (tentang hukum bunuh membunuh)
•Hadist Nabi “القضاة ثلاثة”
•Hadist Nabi Hadist Riwayat Thobroni (tentang kerasnya Allah dalam menghukumi saudara sesama muslim diluar haknya)

-Bisa dikonklusikan dari dua dalil tersebut perihal penghukuman di dunia, bahwa dalam menghukumi setiap urusan di dunia kita juga harus senantiasa mencari keridhoan Allah di dalamnya

-Di negara Pakistan ini secara umum terdapat firqoh firqoh yang secara bebas mengobarkan bendera bendera mereka, sedikit berbeda dengan Indonesia yang cenderung diam diam dan underground

-Pelegelan senjata menjadi alasan utama menurut pembicara terbunuhnya sekitar 100 Ulama, yang pelakunya masih simpang siur karena banyaknya pergesekan antara firqoh firqoh, teroris, dan musuh negara (menurut penuturan kepolisian). Namun menurut ulama dan Mufti di Pakistan mengatakan bahwa dalangnya ialah para orang Syiah atau Intel barat ataupun pembunuh suruhan negara.

-Harapan saudara kita sebagai sesama Muslim dan sesama Tholibul Ilmi
•Jeli dan teliti mencari teman yang baik, dalam arti bukan berarti memusuhi yang lainnya namun senantiasa memberikan hal positif dan mendoakan kebaikan
•Meremehkan orang lain, merasa lebih baik dan meremehkan orang lain adalah penyakit akut bagi seorang penuntut ilmu
•Menjaga lisan, tidak selalu apa yang kita anggap baik belum tentu dianggap baik pula oleh saudara kita

Tanya Jawab
-Bagaimana perihal wartawan yang melihat lokasi kejadian dan menginvestasikan hasil investigasi tersebut terhadap publik?
+Menurut (sdr.Arif Rahman Hakim/Sdr.Ali Muhtadin) boleh saja secara hukum, asalkan tidak mengatasnamakan media terkait jika ia mengumumkan secara sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *