Webinar “Adab Ikhtilaf dalam Islam”

Oleh : Tim Acara

NOTULENSI KEGIATAN

“Adab Ikhtilaf dalam Islam”

Hari                             : Ahad, 10 Januari 2021
Pukul                           : 13.30 – 17.00 WIB / 11.30 – 15.00 PKT.
Tempat/Via                 : Zoom Meeting
MC                               : Nabilla Nur Rahmah
Sambutan                    : Bagus Asri (Ketum PPMI Pakistan)
Moderator                  : Adam Ridho Muzakki
Notulensi Acara          : Ahmad Ghifar Ramadhan dan I. Ilyas

Pembicara 1                : Ustadzah Neng Fitri Hedi Susanti, Lc
Pembicara 2                : Ustadz Lalu Mujahid Imaduddin, S.H.I., M.Ag.

Panelis                       : Fajar Islami Human, S.Ag. dan Yustrina Azimah, B.S.

Prolog :
Sebagai penuntut ilmu dari Indonesia yang berada di Negeri Ali Jinnah, tidak aneh rasanya kita menemukan berbagai macam perbedaan dan keberagaman. Akhir-akhir ini muncul banyak aksi atau gerakan yang terjadi di dalam negeri maupun di dunia internasional, setiap kelompok ini memiliki panji yang besar untuk dikobarkan, memliki manhaj yang baik untuk disusuri. Anehnya, tidak jarang terjadi antar ummat muslim mereka berselisih, tidak sedkit kasus yang berakhir tragis. Lalu, manakah yang “paling benar” menurut Islam?, seperti apakah layaknya kita menyikapi setiap perbedaan maupun ikhtilaf? Apakah kita harus terpaksa pasrah meninggalkan keyakinan yang kita perjuangkan untuk keutuhan? Ataukah kita harus mempertahankan apa yang kita anggap baik walaupun seluruh orang meninggalkan?

Materi I

“Sejarah singkat perbedaan dan cara menyikapinya di zaman Rasulullah dan Khulafa Rashidin”

Pemateri 1          : Ustadzah Neng Fitri Hedi Susanti, Lc

– Ketika penduduk Thaif menolak dakwah Rasulullah SAW, ketika dakwah tauhidnya dibalas dengan cacian bahkan lemparan batu dari penduduk yang membuat nabi tersakiti secara batin maupun dzhohir, Rasulullah justru menunjukkan adab dan pengertian serta mendoakan penduduk thaif agar diberikan hidayah. Cara menyikapi ini terasa sangat sulit untuk dipraktekkan sekarang sedangkan apa yang ditawarkan Rasulullah SAW kepada penduduk Thaif benar-benar Haq, bagi kita terasa sangat berat untuk menyikapi perbedaan dengan adab dan pengertian walaupun perbedaan yang terjadi secara umum bersifat furu` dan ijtihad.  

– Rasulullah SAW pernah suatu kali terbangun dari tidurnya dengan keadaan wajahnya memerah, (beberapa Riwayat menyebutkan merah karena marah) Rasulullah SAW berkata setelahnya bahwa akan terjadi perpecahan diantara bangsa bangsa Arab, kejadian ini dituturkan oleh Zainab istri Rasulullah. Keadaan bangsa Arab yang mulai membaik semenjak datangnya nabi Muhammmad, ketika perbedaan disikapi dengan semestinya, haq dan kewajiban diberikan dengan adil, mulai muncul iftiraaq perpecahan ketika Rasulullah meninggal. Para sahabat berbeda pendapat mengenai status kematian nabi, apakah beliau meninggal seperti halnya manusia atau seperti nabi Musa ketika menerima taurat yang hanya sementara. Setelah berbicara panjang akhirnya sahabat Rasulullah taslim menerima keadaan dan kenyataan bahwa Rasulullah yang sangat dicintai meninggalkan ummat nya.

– Permasalahan selanjutnya yang terjadi di kalangan para sahabat ialah letak dimana nabi Muhammad akan dikuburkan, penduduk mekah berpendapat bahwa selayaknya di Mekah lah nabi Muhammad dikuburkan, berbeda dengan pendapat kaum anshor yang berada di Madinah, mereka berpandangan bahwa di Madinahlah seharusnya tempat nabi Muhammad dimakamkan, karena di sanalah islam mulai berkembang masif dan pesat. Terjadinya beda pendapat diantara para sahabat sendiri membuktikan secara tidak langsung bahwa perbedaan cara pandang sudah menjadi keniscayaan bagi umat manusia, namun adab dan akhlaklah yang membedakan mana yang berilmu lagi beriman, setelah bermusyawarah dan menentukan bahwa nabi Muhammad akan dikuburkan di Madinah sahabat ahlu Mekah taslim/menerima keputusan mufakat dan segera bergegas kembali menyelasaikan masalah masalah yang terjadi pasca sepeninggal Rasulullah SAW. Sebuah perbedaan serta cara menyikapinya telah disikapi dengan baik oleh sahabat Rasulullah SAW, mengenyampingkan emosi ketika berdiskusi, menyikapi perbedaan argumen, menerima dengan lapang dada terhadap keputusan mufakat bersama  dan selalu mengutamakan persatuan keutuhan umat yang dimana persatuan dan keutuhan umat ialah hal fundamental/ushul di dalam kehidupan sebagai muslim.

-Cara menyikapi sebuah perbedaan di zaman Rasulullah SAW dan sahabat yang notabene berhadapan dengan kafir musyrik berbeda dengan cara kita menyikapi perbedaan, walaupun apa yang terjadi sekarang, kita lebih banyak berhadapan dengan saudara sesama muslim.

Ustadzah Neng Fitri mengutip dari salah seorang guru beliau Maulana Syekh Alam Musthofa ketika berada di Mesir, bahwasanya salah satu alasan lemahnya persatuan ummat muslim adalah karena hilangnya panutan qudwah yang menginduk kepada Rasulullah SAW, saat ini kita cenderung menjadikan akhlak Rasulullah sebagai qudwah parsial dan bukan menyeluruh, fokus kepada kepentingan pribadi dan kelompoknya bukan kepada Allah SWT. Lebih jauh Syekh Alam Musthofa mengatakan bahwa kurangnya majelis majelis ilmu yang mengkaji akhlak dan qudwah dari Nabi Muhammad SAW, majelis ilmu sekarang lebih fokus kepada keilmuan bersifat takhosus yang pada akhirnya secara sadar maupun tidak menimbulkan ta`asub pada kelompok tertentu sebagai muslim.

– Hadist Nabi Asysyarif yang membicarakan bahwa akan terpecah ummat Rasulullah SAW menjadi 70 golongan (Sebagian Riwayat 73&72) dan yang hanya diterima disisi Allah satu golongan saja Nabi mengisyaratkan merekalah “Al-Jama`ah”.

Ulama Azhar bersepakat bahwa kalimat Al-Jama`ah dalam hadist tersebut bukan merujuk kepada golongan tertentu, seperti ahlu sunnah A atau ahlu sunnah B seperti yang kita ketahui sekarang, namun lebih jauh dijelasakan di hadits riwayat Bukhori bahwa golongan yang diterima disisi Allah adalah Man Qoola Laa ilaaha Illa Allah yaitu mereka mereka yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, walaupun mereka berdosa dan tidak sempurna seperti pertanyaan Abu Dzar kepada Nabi “ Wa In Zaana Wa In Saraqa?” selanjutnya dijawab oleh Nabi “Na`am Wa In Zana Wa In Saraqa”. Jika merujuk kepada kesepakatan ulama Azhar terhadap kata Al-Jama`ah bisa disimpulkan bahwa kebaikan seorang muslim tidak bisa diklaim sepihak oleh golongan yang eksis pada zaman sepeninggal nabi, lebih inklusif maknanya bahwa merekalah yang bertauhid, berpegang teguh pada ajaran Islam dan menjunjung tinggi ittihad Al-Islam atau persatuan umat Muslim.

– Syekh Abdussalam Arsyita seorang dosen di Al-Azhar membagi golongan ummat Rasulullah SAW menjadi dua kelompok :

1. Firqoh Adda`wah : Yaitu mereka yang hidup di zaman Islam semenjak Bi`tsatunnabi Muhammad mereka yang hidup di zaman Al-quran, da`wah dan kajian kajian Islam, hingga orang yang terakhir nanti di akhir zaman. Namun pada hakikatnya menolak untuk beriman dan mereka mengingkari kebenaran itu, mereka lebih suka untuk menyembah apa yang mereka terka-terka

2. Firqoh Ijaabah : Yaitu mereka yang hidup di zaman Islam semenjak Bi`tsatunnabi Muhammad hingga orang yang terakhir nanti di akhir zaman. Mereka menjawab seruan da`wah dengan hati yang tulus dan ikhlas beriman kepada Allah SWT, saling menasehati dan memperbaiki diri sesama.

– Ulama Azhar berpesan kepada penuntut ilmu di sana bahwa bukanlah yang dibutuhkan oleh ummat muslim sekarang ini hal-hal yang mengundang perhatian publik (viral) maupun hal yang mengundang perdebatan dalam perbedaan, ummat muslim hari ini membutuhkan tazkiyah an-nafs dan ilmu untuk membersihkan hati dari keburukan-keburukan dan kelalaian kita sebagai manusia.

Ketika kita memiliki hati yang ikhlas untuk kebaikan maka Insyaallah akan tersampaikan pula kebaikan itu kepada orang lain, ikhlas itu akan menembus sekat-sekat perbedaan yang ada dan perbedaan yang tampak. Di sisi lain, ketika hati kita ikhlas dan bersih maka kita akan lebih mampu menerima dan berlapang dada terhadap suatu keputusan walaupun terkadang itu berlawanan dengan apa yang kita fikirkan. Merekalah para Ulama, pewaris para nabi yang memeliki sanad keilmuan tersambung kepada para sahabat dan Nabi Muhammad SAW adalah Thobibul Qulub, adalah sebuah jawaban dari hausnya hati kita dari kemiskinan ilmu, adalah seorang dokter yang menawarkan solusi untuk sehat.

Wallahua`lam Bishowab

MATERI II

“Tolak ukur toleransi dan cara mengaplikasikan adab-adab ikhtilaf dalam perbedaan di masyarakat”

Pembicara 2       : Ustadz Lalu Mujahid Imamuddin, S.H.I., M.Ag.

– Menurut sebuah analisa dari doktor Abdul Qadir Baraja, beliau menyimbulkan bahwa keadaan ummat Muslim saat ini dibagi secara umum menjadi 4 bagian :

  1. Ummat yang mengenal Islam, mengamalkan nilai-nilai Islam dan peduli dengan urusan-urusan ummat Islam. Ummat ini hanya memiliki presentase 10% dari total keseluruhan jumlah ummat muslim.
  2. Ummat yang memahami Islam, mengamalkan nilai-nilai Islam namun tidak peduli dengan urusan-urusan ummat. Masalah utama dari bagian ini ialah mereka tidak mempunyai ghiroh/semangat untuk menjaga dan mengembangkan peradaban dan sosial kemasyarakan muslim, mereka cenderung acuh tak acuh terhadap problem yang terjadi di dalam tubuh ummat. Ummat ini memiliki 20% dari total keseluruhan jumlah ummat muslim.
  3. Ummat yang kurang memahami islam, karenanya belum bisa mengamalkan nilai-nilai Islam dengan baik dan mereka tidak peduli dengan urusan-urusan ummat muslim. Ummat ini memiliki presentasi 30%.
  4. Ummat ini tidak memahami Islam, tidak mengamalkan nilai-nilai Islam, tidak peduli terhadap urusan ummat bahkan membenci ajaran dan orang orang muslim. Ummat ini memiliki presentase paling tinggi yaitu 40%.

– Berkaca dari analisa di atas bahwa perbedaan pendapat dan pergesakan akan terjadi di tubuh ummat muslim. Perbedaan watak, visi misi dan tujuan dari setiap bagian ini menimbulkan banyak adu pendapat bahkan adu kepentingan. Ikhtilaf ini berbanding lurus dengan sedikitnya kuantitas orang muslim yang mengenal, mengamalkan serta peduli dengan urusan urusan agama.

 Dikutip dari buku karangan Ustadz Fahmi Zarkasyi, beliau mengatakan bahwa tidak mungkin ummat Rasulullah yang benar-benar beriman menggemari perselisihan, jika memang ada diantara ummat muslim ini masih gemar berselisih dan acuh tak acuh, bisa dipastikan bahwa mereka belum bisa dikategorikan menjadi ummat yang beriman melainkan masih pada tahap ummat yang berislam. Seperti yang tertulis dalam surat Al-Hujurat “Innamal Mu`minuuna ikhwatun” bahwa merekalah yang beriman yang memiliki pemahaman bahwa setiap kaum muslimin adalah saudara, kategori Islam-Iman-Ihsan dalam agama memiki garis yang cukup jelas, seperti dalam surah yang sama ayat 14, Allah SWT berfirman : “Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu”.

– Jika melihat dari kenyataan diatas bisa disimpulkan bahwa memang ikhtilaf dalam tubuh Islam bakal terjadi, bahkan dalam beberapa kasus terjadi Syiqaq, adanya perbedaan cara memahami Islam, perbedaan cara mengamalkan hingga perbedaan cara menunjukkan kepedulian terhadap urusan-urusan agama. Mengacu pada surat Al-Hujurat di atas bahwa perbedaan kualitas antara orang berislam dan beriman cukup signifikan, alasan ini bisa menjadi tolak ukur secara umum bagi kita Thalibul `Ilmi dalam mengkategorikan masyarakat nantinya.

– Dalam surat Al-Anbiya ayat 92 Allah berfirman :

إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ

Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”, disini Ustadz Mujahid menjelaskan bahwa ummat nabi Muhammad hakikatnya adalah satu, dan ciri ciri mereka adalah orang orang yang menyembah Allah `Azza Wa Jalla tanpa menyekutukannya.

Sejauh apapun ikhtilaf yang terjadi di tubuh ummat muslim, selama mereka mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” merekalah ummat nabi Muhammad, selanjutnya Allah menyuruh hambanya untuk taat kepada perintahnya dan taat kepada nabi Muhammad SAW serta melarang kita untuk berbantah bantahan “Wa laa tanaaza`uu”, karena sesungguhnya ketika kita sesama ummat muslim saling berbantah-bantahan maka akan membuat kita gentar dan tidak memiliki kekuatan yang tersisa/lemah “Fa tafsyalu wa tadzhaba riihukum

Allah berfirman memberikan solusi bagi kita untuk “Washbiru fainnallah ma`a ashshobirin” maka bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. Ustadz Mujtahid lebih panjang menjelaskan mengapa di dalam ayat di atas memakai kalimat shabara dibanding ittahidu , karena memang ketika kita berurusan dengan saudara kita pada umumnya membutuhkan porsi kesabaran yang lebih “watawashou bil haq watawashou bishshobr” dalam hal nasehat menasehati kita dituntut menashati dalam kebenaran dan dituntut pula untuk bersabar ketika dinasehati, dan sebaliknya.

– Solusi yang ditawarkan dalam al-Quran ketika terjadi perselisihan antara ummat muslim ialah “etika sabar”, sabar walaupun kita merasa hujjah kitalah yang paling benar, sabar ketika tidak direspon dengan baik, namun sesunggunya itulah kunci dan sebab pertolongan Allah SWT. Selanjutnya Al-Quran memberi peringatan kita untuk tidak meniru orang musyrik, sesungguhnya mereka memecah belah agama mereka sendiri dan setiap dari mereka berbangga diri terhadap golongan golongan baru mereka “iinalladzina farraqu diinahum wa kaanuu syiya`a kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun”.

-Dalam Surah Al-An`am Allah berfirman :

 اِنَّ الَّذِيۡنَ فَرَّقُوۡا دِيۡنَهُمۡ وَكَانُوۡا شِيَـعًا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ​ ؕ اِنَّمَاۤ اَمۡرُهُمۡ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ يُنَـبِّـئُـهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَفۡعَلُوۡنَ


“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”.

Lebih lanjut dalam surat Ali-Imran ayat 19 :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ   “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.


Yang menjadi titik berat di dalam perbedaan menyikapi perbedaan dalam hidup berjama`ah ialah adanya baghyan atau kedengkian, perbedaan dan keberagaman adalah niscaya namun perselisihan dan kedengkianlah yang mengantarkan ummat terdahulu (musyrik) terpecah belah dan terperangkap di dalam kesesatan.

-إن الإسلام ما أكّد على شيء مثل تأكيده على (كلمة التوحيد) (وتوحيد الكلمة): ولكن المسلمين -للأسف- أخلوا بكلمة التوحيد، وزهدوا بتوحيد الكلمة

(Dikutip dari Syekh Thaha Jabir Al-Alwani)

– Bencana paling berbahaya yang saat ini menimpa umat Islam adalah bencana perbedaan pendapat dan perselisihan paham

Perbedaan yang ditandai dengan kekerasan, kepentingan sendiri-sendiri, dan motivasi yang egoistik, berkembang dan tumbuh semakin besar dan semakin besar; merasuk jauh ke dalam dunia mental seseorang lalu merantai pikirannya, perilakunya dan perasaannya.

Lalu orang-orang ini kehilangan kejernihan pandangan terhadap segala sesuatu. Dalam perjalanannya mereka pun kehilangan tujuan dan misi Islam dan prinsip-prinsip dasarnya yang utama. Orang-orang ini kehilangan visi dan pengetahunan dan melupakan perilaku-perilaku Islami yang paling dasar.

Mereka begitu mudah berkata tanpa pengetahuan, memutuskan tanpa pemahaman dan menjalankan sesuatu tanpa dasar. Dari orang-orang ini, tuduhan demi tuduhan membanjir, sebagian masyarakat dicap sebagi sesat dan penuh dosa, sementara yang lain dinyatakan sebagai ‘kafir’.

– Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas “LOSS OF ADAB” HILANGNYA ADAB ADALAH AKAR MASALAH UMMAT

IKHTILAF : Perbedaan atau keragaman yang ditujukan untuk menghasilkan kemudahan dalam ibadah atau harmoni dan keindahan dalam kehidupan, jadi bukan perselisihan. Mengambil posisi berbeda baik dalam pemikiran, kata, maupun pilihan perbuatan. Satu akar kata dengan “Khilaf” namun memiliki konotasi yang lebih luas, meliputi perbedaan, selisih paham dan bahkan konflik atau perlawanan. Khilaf melahirkan kesan negative atau yang bersumber dari sesuatu yang salah, oleh karena itu setiap ada yang berbeda dari yang semestinya disebut khilaf. Ikhtilaf tidak sama dengan “berlawanan” (DIDD), karena orang yang berlawanan pasti berbeda namun tidak semua yang berbeda berlawanan.

JADAL : Saat orang bersikukuh atas pandangannya, lalu berusaha untuk mempertahankannya dan meyakinkan orang lain agar mengikutinya atau agar orang lain tidak dapat menjatuhkan keyakinannya. Jadal mengimplikasikan adanya diskusi saling berbantahan untuk mengalahkan yang lain.

SYIQAQ: diskusi yang menjadi keras dan kasar; dilakukan hanya untuk menunjukkan keunggulan masing-masing, tertutup kemungkinan untuk saling memahami, tidak lagi peduli dengan kebenaran yang diperdebatkan.

– Sebelum terjadinya ikhtilaf terdapat beberapa langkah untuk mengantisipasi perpecahan :

  • Berusahalah untuk tidak terjadi perbedaan, sedapat mungkin wujudkan kesatuan, bukan perbedaan.
  • Persaudaraan antar muslim adalah hal yang sangat ditekankan oleh Rasulullah. Maka persaudaan itu harus menjadi yang diutamakan dalam situasi apapun, temasuk dalam perbedaan.
  • Untuk hal-hal yang sifatnya fundamental, seperti keimanan dasar, sama sekali tidak boleh ditolak atau diselisihi dengan alasan perbedaan.
  • Biasakan berbagi pengetahuan dan saling menasehati tentang kebenaran dengan sabaar, sehingga mudah tercapai kesamaan pandangan.
  • Utamakan para Ulama’ (faqih/fuqaha’) yang mendalam pengetahuannya dan sholeh perilakunya sebagai rujukan dan tempat bertanya.
  • Kritik dan peringatan dari sesama muslim anggaplah sebagai kepedulian dari saudara dan termasuk perilaku khayr (baik), oleh karena itu harus dilakukan dengan jalan yang baik dan diterima secara baik pula.

Terdapat beberapa sebab mengapa ummat bisa terjadinya ikhtilaf ditinjau dari beberapa aspek :

  1. Sebab Sunnatullah
  2. Tabi’at agama, adanya ayat-ayat mutasyabihat yang memang menuntut kita untuk berijtihad
  3. Tabi’at Bahasa, adanya pemahaman yang berbeda arti dan makna.
  4. Tabi’at manusia, yang diciptakan berbeda-beda dan memiliki kepribadian, tabi’at, pemikiran sendiri-sendiri. Hal ini merupakan perbedaan macam atau variasi dan bukan merupakan perbedaan mengarah ke pertentangan.
  5. Tabi’at alam dan kehidupan; alam diciptakan bervariasi dan berbeda-beda.
  • Sebab Karakter Ambivalen Manusia
  • Menghadapi Perbedaan, manusia cenderung bersifat ambivalent:
    • Satu sisi: menerima bahwa manusia itu berbeda-beda,
    • Sisilain: mereka tidak nyaman dengan adanya perbedaan-perbedaan, bahkan cenderung merasa terancam dengan adanya perbedaan-perbedaan itu.
  • Kesimpulanya: perbedaan sebagai fakta bersifat mutlak. Kesamaan dan kebersamaan adalah sebuah kemungkinan harus diupayakan.
  • Sebab Karakter Agresif Manusia
  • Dalam perspektif psiko-analisa, manusia secara alamiah memiliki sifat agresif. Hal ini juga diisyaratkan oleh para Malaikat pada saat penobatan Adam (manusia) sebagai khalifah Allah, bahwa manusia punya karakter aggressor (senang menumpahkan darah).
  • Agresif di sini dapat diartikan menyerang/menaklukkan, dan secara implisit memiliki makna menguasai, memiliki dan menghancurkan. Dalam perspektif filsafat eksistensialisme, agresif berkonotasi egosentik. Diri sebagai pusat segala hal.
  • Manusia seringkali hanya mencari dan memilih media untuk mengekpresikan kecendrungan agresi tersebut. Dengan kata lain, agresi bukanlah suatu reaksi seorang individu manusia terhadap stimuli (rangsangan) dari luar, melainkan rangsangan dalam yang sudah “terpasang” yang mencari pelampiasan dan akan terekspresikan melalui media rangsangan yang kecil sekalipun. Media itu kadang hanyalah sekedar pijakan dalam membangun alasan untuk menjadikan ekpresi agresi itu menjadi sah secara sosial.
  • Sebab Pemikiran
  • Menghadapi perbedaan, manusia cenderung bersifat ambivalent:
  • Satu sisi: Menerima kenyataan bahwa manusia itu berbeda-beda,
  • Sisi lain:Mereka tidak nyaman dengan adanya perbedaan, bahkan cenderung merasa terancam dengan adanya perbedaan-perbedaan itu.
  • Kesimpulannya: Perbedaan sebagai fakta bersifat mutlak. Kesamaan dan kebersamaan adalah sebuah kemungkinan harus diupayakan.
  • Sebab Akhlak
  • Gemar membangga-banggakan  diri dan kagum terhadap pendapat sendiri
  • Buruk sangka dan mudah menuduh orang tanpa bukti
  • Egoisme dan mengikuti hawa nafsu
  • Fanatik kepada pendapat orang tertentu
  • Fanatik kepada aliran, jama’ah atau daerah tertentu

Pembahasan atau perbedaan masalah yang bisa ditolerir maupun yang perbedaan yang tercela :

  • Perbedaan yang ditolerir:
  • Ketika memiliki hujjah
  • Tanpa disertai permusuhan dan celaan kepada orang yang berbeda dengannya
  • Perbedaan yang tercela:
  • Ketika seorang dengan sengaja menyelisih/membangkang, karena motif jedengkian atau mengikuti hawa nafsu
  • Yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan

Dengan adab masalah masalah yang terjadi, perbedaan yang ada bisa diubah menjadi hikamah dan kebaikan contonya adalah :

  • Memberikan banyak pengetahuan tentang dalil yang bisa dijadikan dasar perilaku.
  • Wahana untuk melatih daya nalar, saling sumbang pemikiran, membuka kesempatan yang luas untuk mengetahui berbagai konsep yang tidak mudah dijelajahi sendiri.
  • Memunculkan banyak alternatif solusi bagi seseorang yang menghadapi sebuah fenomena tertentu.

Saran dari Ustadz Mujtahid kepada kita agar terhindari dari dampak buruk dari ikhtilaf

  •  Mengikuti Manhaj Pertengahan dan Meninggalkan Sikap Berlebihan Dalam Agama
  • Mengutamakan Muhkamat Bukan Mutasyabihat
  • Tidak memastikan dan Menolak Dalam Masalah Ijtihadiah
  • Menela’ah dan memperkaya  wawasan tentang Perbedaan Pendapat Para Ulama.
  • Memperjelas problem, pengertian dan istilah sehingga tidak memperdebatkan omong kosong.
  • Memperioritaskan Masalah Ummat yang lebih besar.
  • Bekerjasama dalam masalah yang disepakati.
  • Saling toleransi dalam masalah yang diperselisihkan
  • Menahan diri dari orang yang mengucapkan “La Ilaha Illahllah”.

Apa yang terjad jika memang harus terjadi debat?, berikut adalah hal hal apa saja yang perlu kita persiapkan sebagai Tholibul `Ilmi

  • Memulai dengan husnuzan (perasangka baik) terhadap sesame muslim.
  • Menghargai pendapat orang lain sejauh pendapat tersebut mempunyai dalil.
  • Tidak memaksakan kehendak bahwa pendapatnya yang paling benar, karena pendapat lain juga mempunyai kemungkinan benar yang seimbang.
  • Lapang dada menerima kritik yang sampai kepada anda untuk membetulkan kesalahan, dan hendaklah anda ketahui bahwa ini adalah nasehat yang dihadiahkan oleh saudara seiman anda.
  • Hendaklah memilih ucapan yang terbaik dan terbagus dalam berdiskusi dengan sesame saudara muslim.
  • Tidak kasar dan mencaci
  • Mengusung semangat untuk menemukan yang lebih baik/ lebih benar, bukan mengalahkan atau menjatuhkan.
  • Akhiri dengan
  • Komitmen untuk menjalankan kebenaran yang ditemukan Bersama
  • Saling memaklumi dan menghargai jika tidak dicapa kesepakatan akan kebenaran
  • Meyakini kelemahan dan keterbataan diri dengan berprinsip Wallahu A’lam bis Sawab

AL-Hujurat  (49) : 12

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)

Lukman  (31) : 19

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

Wallahua`lam Bishshowaab

PANELIS I dan II

  1. Fajar Islami Human, S.Ag.
    1. Apa ukuran qoth’i donni, karena ukuran qoth’i dan donni masih belum jelas. Di sana ada beberapa masalah yang disepakati qoth’inya dan ada masalah yang disepakati donninya. Tetapi, di sana ada masalah yang terjadi perbedaan status antara qoth’i dan donninya oleh sebagian ulama. Maka di dalam kitab ‘al ushul wal furu’ diterangkan, bahwa ulama yang memandang ini adalah masalah Qoth’i maka baginya bahwa masalah ini adalah masalah ushul, dan ulama yang memandang ini adalah masalah donni maka baginya masalah tersebut masalah furu’. Berarti tidak ada masalah ketika ulama menganggap masalah ini qoth’i juga tidak masalah ketika ulama menganggap ini masalah donni. Artinya qoth’i donni di sebagian masalah itu tergantung pikiran ulamanya bukan pada zat masalah itu sendiri. jadi apa ukuran qoth’i dan donni?
    2. Pertanyaan ke dua tentang: Asma was sifat. Sebagian ulama menganggap ini masalah furu’ yang berarti tidak terlalu penting. Dengan alasan di sana banyak permasalahan umat seperti liberalisme, pluralisme, dan semangat persatuyan umat. Saya katakan bahwa orang meskipun tidak paham dengan pemikiran, asalakan aqidahnya bener maka orang tersebut akan menolak liberalisme. Bedanya mereka yang paham bisa menjelaskan dengan ilmiah. Lah tetapi saya mengangkat suatu masalah yang menurut saya ini agak penting karena aqidah. Masalah “الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى” (Q.S. Thaha : 5) yang mana para sahabat, tabiin, madzahib dan beberapa ulama sepakat mengitsbakan sifat. Pertanyaanya apakah yang menta’wil ayat ini mencoba untuk menyalahi para salaf, sahabat, tabiin dll Atau barangkali datangkan riwayat yang yang menjelaskan tentang ta’wilan asma wa siffat tersebut.

JAWABAN

  1. Yang dimaksud sebagai furu’adalah donniyyah al-khofiyyah al-muktalaf fiiha. Yaitu yang mengandung dugaan (multi interpretasi)yang tersembunyi dan diperdebatkan oleh para ulama. Nah ini yang menjadikan rahmah.
    kemudian untuk Ushul = itu al-qoth’iyyah al-jaliyyah al-mujma’ alaiha. Hal-hal qoth’i jelas dan disepakati oleh ulama. Jadi ketika ada yang belum disepakati dan memiliki dugaan serta interpretasi maka donni. Karena kemampuan ulama dalam meninterpretasi berbeda-beda. Maka sangat mungkin ada sebuah hadits atau ilmu berbeda. Bisa jadi ilmu tersebut sudah sampai pada ulama 1 tapi belum pada ulama yang lain. Itu yang menjadikan Imam Syafi’i ada qoul qodim (irak) dan qoul jadid (di mesir). Dan sebagainya.
  2. Masalah pemikiran memang sebagai masalah penting. Terlebih di Indonesia, sejak terjadinya WTC. Selain eksternal kaum muslimin, juga ada problem internal, dan dulu dengan sekarang, yang mana lebih kompleks. Jika perbedaan dahulu ada pada muhammadiyah dan NU, sekarang adalagi seperti Islam liberal, Pluralisme, LGBT, Islam Indonesia, Islam Nusantara, Islam Fundamental, Islam teroris dll yang sengaja dibuat oleh barat sebagai Ghozwatul fikri, Ghozwatul istilah dan ini sangat masif sampai hingga saat ini masih ada yang diperjuang seperti LGBT. Mereka memperjuangkan sebagai islam moderat, yang mana versi mereka adalah islam moderat islam yang menerima LGBT, yang menerima persamaan semua agama (pluralisme) islam yang menerima paham-paham syiah,Ahmadiyah dll dan ini salah tantangan yang berat bagi kita. Jadi kita harus melihat juga problem pemikiran berat ini. Mengenai ikhtilaf dalam asma wa siffat itu tentu sudah diperdebatkan sejak lama, dalam hal ini saya tidak berkompeten, dan pembahasan ini melahirkan perdebatan lagi, padahal perdebatan ini yang kita hindarkan lagi. Yang jelas saya akan mengutip ayat


هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Terkait masalah-masalah ini, saya berusaha untuk menghindari karena tema kita kali ini tentang adab.

2. Yutsrina Azimah, B.S.

Memang terkait ikhtilaf sudah ada sejak dulu kala, bahkan sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup seperti perintah Rasul kepada para sahabat “Janganlah seseorang dari kamu solat Asar kecuali di Bani Quraizhah” yang mana sebagian sahabat memahaminya dengan tekstual dan kontekstual. Yang mana maksud dari nabi oleh sebagian sahabat adalah bersegera solat asar dan sebagainya harus solat di bani Quraizhah” pertanyaanya adalah :

  1. bagaimana menyikapi fanatisme suatu golongan, karena kita tidak bisa menyangkal pada dewasa ini pada fanatisme suatu golongan pada firqoh, yang mana dalam kasus ini diantara orang mukmin adalah bersahabat dan bersahabat. Imam Syafi’i saja ketika berselisih pendapat dengan abu musa yusuf As-sodafi beliau mengatakan : “anna kunna ikhwaanan, waillam nattafiq fii masalah” hendaknya kita senantiasa bersaudara sekalipun kita tidak sepakat dalam satu masalah.
  2. Bagaimana kita menyikapi perbedaan golongan Islam seperti yang disampaikan oleh ustadz lalu tadi, Dengan pendekatan apa?

Jawaban

  1. Selama kami belajar melalui 2 masyayikh kami di mesir, ada sebuah pertanyaan tentang Fiqh Syafi’i beliau menjawabnya “engkau lebih memahami” dengan ini karena beliau mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia yang sangat kental dengan madzhab syafi’inya yang mana padahal beliau berdua madzhabnya Maliki dan Hanafi. Beliau berdua mengesampingkan furu’iyyahnya. (Menurut Usth Neng Fitri Hedi S.) untuk menghindari dari fanatisme sendiri adalah dengan adab sendiri, maka kita kembali kepada penjelasan Prof. Syed Nuqaib Alatas bahwa adab adalah sekumpulan dari Iman, Ilmu dan Amal.dari ilmu yang kita pelajari saat ini harus didasari dengan iman, yang nantinya akan menghasilkan ihsan dan akhlaq sendiri.
  2. Terkait bagaimana pendekatan terkait pembagian analisa umat muslim oleh Ust. Abdul Qadir Baraja, sebenarnya analisa ini memberikan gambaran kualitas umat islam seara iman sekitar 10 % dan sebagainya. Tentu dakwah kita kepada bagian-bagian ini berbeda, kalau tingkatan pemikiran itu di kampus. Banyak anak-anak kita belajar di pesantren lalu terjun ke universitas, lalu mendapatkan ilmu baru, guru baru, sehingga seolah-olah ilmu taklim di pesanten itu seperti hilang. Dan berbagai luas lainya. Dan pendekatan secara keseluruhan menurut Prof. Nuqaib Alatas yaitu pendidikan, dan pendidikan baginya adalah adab, dan ilmu itu untuk meningkatkan iman. Itu konsep kita yaitu konsep melalui pendidikan dan itu juga pendekatan semua. Bisa juga melalui pendekatan politik, seperti mungkin sekarang kita memiliki huffadz yang berusia 5 tahun. Bagaimana seharusnya kita menjadikan mereka yang huffadz sebagai pemimpin di masa depan. Serta juga bisa melalui ekonomi dll. jadi bisa untuk berjuang setiap umat islam pada porsi dan posisinya masing-masing.

Demikian Notulensi kami buat, Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *