KURTA : WARISAN DINASTI MUGHAL, PENGUASA ASIA SELATAN

Jika anda melihat tayangan televisi atau video di media sosial tentang India pasti anda pernah melihat masyarakatnya memakai pakaian longgar dengat atasan yang panjangnya hingga lutut serta celana panjang dengan warna senada. Tapi tahukah anda? Bahwa bukan masyarakat India saja yang menggunakan pakaian tersebut.

            Nama pakaian tersebut adalah Kurta,atau disebut juga “Salwar Kameez” sedangkan bagian bawahnya Bernama “Dhotis”. Kata kurta diambil dari Bahasa Urdu dan Hindi yang awalnya adalah Bahasa Persia, secara harfiah Kurta berarti baju tanpa kerah, uniknya pada tahun 1989 Oxford English Dictionary memasukkan kata Kurta kedalam Bahasa inggris. Seperti yang telah disebutkan dimuka, tidak hanya India, melainkan juga di Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, Nepal, dan Sri Lanka.

            Selain kurta, ada Kurti yang lebih pendek. Dewasa ini para Wanita memadukan kurti sebagai blouse dengan bawahan celana jins, begitupun prianya. Selain lebih pendek, Kurta jenis ini juga cederung lebih ringan. Pada 3 tahun terakhir,  Kurta mulai popular di Indonesia baik secara impor maupun home production, setelah mengalami redupnya di akhir tahun 70-an

            Menurut Wikipedia, Kurta sendiri terlacak mulai digunakan pada abad ke-12 Masehi, pada era Islam di Iran, yang kemudian diikuti oleh kekaisaran Mughal di daerah yang kini disebut Punjabi. Sedangkan bahannya adalah gamis yang dijahit sedemikian rupa agar nyaman digunakan oleh masyarakat sekitar untuk digunakan bekerja seperti berladangm mengembala, atau membangun bangunan. Ada banyak model perpaduan Kurta dengan aksesoris lain yang disesuaikan dengan musim, profesi, dan ritual khusus. Pada musim panas kurta dipakai tanpa tambahan lainnya, hanya bagian atas dan bawah, namun saat musim dingin penduduk setempat kurta dipadukan dengan selimut Bernama “Ralli” untuk menahan dingin. Di sektor pekerjaan biasanya kurta dipadukan dengan rompi tipis yang biasanya digunakan dibawah jas agar terkesan resmi, hal ini juga menandakan bahwa si empunya adalah orang terpandang yang berkecukupan, pada beberapa kasus juga sering ditemukan bahwa kurta mereka lebih bercorak. Sedangkan untuk ritual keagamaan (baca juga kegiatan formal agama Islam) biasanya kurta dipadukan dengan “Turban”, yakni semacam sorban yang diikatkan dikepala, pada masa lampau perpaduan Kurta bermotif dengan Turban juga dikenakan para bangsawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *