Kelahiran Manusia Dan Hakekat Senioritas

Sering kali ucapan “Happy Anniversary/ Happy Birthday” terucap ramai menghiasi hari seseorang ketika menjumpai tanggal tertentu yang menunjukkan waktu pertama kali dia membuka mata, menghirup udara dan memulai titik permulaan kehidupan dunianya. Tapi jangan salah, manusia tidak hanya terlahir satu kali saja, sebelum manusia lahir di alam raya, ia sudah tercipta sejak lama dalam bentuk ruh manusia.  Artinya manusia telah terlahir jauh sekali sebelum terlahir di dunia, namun keberadaannya tidak dalam bentuk fisik.

Kelahiran manusia di dunia adalah kelahirannya yang kedua dalam bentuk fisik, sebab ruh yang akan ditransformasikan ke dunia membutuhkan ruang sebagai eksistensi penghuni bumi. Wadah jasad tersebut dilengkapi dengan seperangkat spare parts dan atributnya guna menunjang keberlangsungan aktivitas dan mobilitas kehidupannya di dunia. Dengan kata lain, harus disadari bahwa uforia “Hari Kelahiran” sebenarnya hanya sebagai bentuk perayaan yang merujuk pada peringatan kelahiran jasad seorang manusia yang dihuni ruh dan sedang menjalankan perannya sebagai warga bumi.

Beralih pada diskursus mengenai kelahiran ruh manusia yang jauh sebelum menjadi penghuni bumi. Apakah penciptaan ruh manusia dikonstruksi secara serentak bersamaan? Ataukah dicipta secara berkala sesuai urutan antriannya?

Asumsi sederhananya, jika ruh manusia dicipta secara serentak, artinya semua kelahiran ruh manusia persis pada waktu yang sama, hanya saja kelahirannya di dunia ditanam satu per satu¬† dalam tempo yang berbeda-beda sesuai jadwal masuknya dalam wadah jasad sebagai kostum masyarakat bumi. Dan jika ruh manusia dicipta secara berkala, maka implikasinya adalah kemunculan konsep senior-junior sebelum kehidupan manusia di dunia dimulai. Kalau pun senioritas itu benar adanya, apa mungkin konsepnya sama seperti yang berlaku di bumi yang merefleksikan pola “comparative degree” bermakna lebih, lebih berpengalaman, lebih berilmu, lebih berkuasa dan lebih-lebih lainnya.

Konsep senioritas di atas dapat dikatakan wajar dalam konteks kehidupan manusia di dunia karena begitulah dinamika atribut bumi, siapa yang duluan maka ia berpotensi besar mendapatkan sesuatu yang lebih. Bahkan fakta sejarah mencatat bahwa manusia sekaliber Nabi Muhammad SAW bersedia mengafirmasi permintaan Nabi Musa AS untuk naik turun langit 9 kali, salah satu alasannya adalah dilatar belakangi oleh nasab kenabian Nabi Musa AS yang dianggap lebih senior dan lebih berpengalaman dari Nabi Muhammad SAW ketika momen Isra’ Mi’raj.

Kembali pada pertanyaan “Apakah senioritas alam ruh seperti halnya senioritas di dunia?” Tapi, bukankah dulu Nabi Adam AS sempat kena prank Iblis sebagai senior makhluk juga penghuni surga yang menyerupa ular datang pada Ibu Hawa memberitaukan tentang keabadian, dan karena kepolosan sifat junior maka keduanya terjerumus dalam hasudan Iblis. Cukup kompleks dan rumit mencari pemecahan perkara dengan keterbatasan logika.

Jika rasionalitas sudah tidak mampu lagi menjangkaunya, beralih pada literalisme skriptual  adalah solusi absolut yang pasti di dalamnya tertuang jawaban. Bagaimana mendapatkannya?

Konsep dasarnya adalah prinsip taqwa, ikhlas dan syukur. Allah SWT tidak melihat dari hambaNya melainkan pada rasa dan prilaku taqwanya, sedangkan ikhlas sebagai penawar dari segala racun dan fatamorgana dunia. Jika ketaqwaan telah menyatu dalam diri makhlukNya terkhusus manusia, maka iringan jiwa keikhlasan pun menjadi syarat sebagai pelindung diri dari segala keterikatan kecuali pada Allah SWT, perlahan melebur dan mengkonsepsikan segala cobaan baik kebahagian maupun kesedihan menjadi bentuk kasih sayang dan rahmat anugerah Tuhan yang wajib disyukuri.

Selama manusia terus berusaha mendalami dan berpegang erat pada ajaran dan titah ilahi,  maka senioritas yang sebenarnya adalah bukan pada siapa yang duluan eksis dalam konteks penciptaan sehingga berpotensi besar menjadi senior secara durasi dan mendapatkan porsi yang lebih, akan tetapi sungguh Maha Adil Allah yang telah menciptakan rambu-rambu dinamika kehidupan. Barang siapa  yang mematuhinya maka ia akan sampai pada tujuan akhirnya dengan selamat sesuai kualitas penghambaan dan kepatuhan atas jalan takdirnya masing-masing.

Jadi, ucapan “Selamat Ulang Tahun” harus bermuara pada perwujudan syukur atas anugerah kelahiran, upaya untuk meningkatkan ketaqwaan, dan membiasakan keikhlasan agar terlepas dari segala ikatan menuju senior agung yang sesungguhnya, yaitu Allah SWT.

Wallahu a’lam bissowaab

Oleh : Ahmad Azizuddin, S.E.I, M.S.Eco

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *