Kajian Inspirasi Ramadhan 7 dan Halal Bi Halal

Hari, Tanggal : Ahad, 16 Mei 2021

Waktu             : 17.00 – 18.45 PKT

Narasumber     : Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE.

Sambutan        : Adam M. Tugio, S.H., LL.M.

Moderator       : Ach Fuad Fahmi, S.H.I.

Notulen           : Yuniarti Tri Setiawati

“ISTIQOMAH SETELAH RAMADHAN”

  1. PENGANTAR MATERI (SAUDARA ACH FUAD FAHMI, S.H.I.-MODERATOR)
    Kepergian ramadhan tak membuat kita larut dalam kesedihan aka tetapi yang perlu kita sedihkan apabila amalan kebajikan dan seluruh kebiasaan baik kita di ramadhan terhenti di tepi jalan bahkan hilang tertelan dengan nafsu dan amal keburukan sesuai yang tertulis didalam firman-Nya.

    إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

    Dalam kalimat yang digaris bawahi kita diajak beristiqomah dalam hal apapun khususnya yang ada relasinya dengan ibadah ritual dan ibadah sosial. Ibadah ritual menguatkan jiwa spiritualitas kita agar terus terhubung dan terkoneksi dengan sang Khaliq Allah SWT. Dan ibadah sosial menjadikan bukti bahwa keimanan, keshalehan dan kebajikan yang ada dalam diri kita berdampak pada saudara-saudara kita yang dirundung kesusahan bahkan harus bermanivestasi menjadi problem solver atas ketimpangan sosial dan perampasan hak-hak kemanusiaan yang terjadi di zaman sekarang, bicara mengenai keistiqomahan kita selalu disuguhkan tema dan esensi yang menarik didalamnya, terkandung hikmah dan terus memacu kita untuk berbenah diri untuk menjadi hamba Allah yang militan, lantas bagaimana kita bisa mengaktualisasikan diri agar terus istiqomah berbuat kebaikan setelah melewati bulan ramadhan?
  2. MATERI (PROF. DR. AZYUMARDI AZRA, M.A., CBE.)
    Dengan meninggalkan Ramadhan masuk ke bulan Syawal, bulan Syawal sendiri memiliki arti naik dan meningkat. Di Indonesia memiliki ritual atau tradisi ramadhan yang mana disebut ramadhani ritual kompleks merupakan lingkaran atau lingkungan ritual ramadhan, berlangsung selama 3 bulan, dimulai dari bulan Sya’ban (melakukan ibadah menuju bulan Ramadhan) puncaknya nishfu sya’ban (separuh bulan Sya’ban) kemudian diikuti ziarah dan tradisi lainnya guna menyambut bulan Ramadhan, kemudian dilanjut paska ramadhan (Syawal) untuk meningkat ibadah lebih tinggi lagi.

    Apa saja ibadah yang dilakukan paska ramadhan yang termasuk kedalam ramadhani ritual kompleks :
    1. Puasa 6 hari syawal
      6 hari puasa dibulan syawal bisa dilakukan 1 atau 2 hari setelah 1 syawal.
    2. Sillaturrahim
      Sangat dianjurkan untuk bersilaturrahim di Indonesia ketika idhul fitri (1 Syawal), namun di negara lain bukan menjadi momentum besar bagi mereka. Walaupun 2 tahun terakhir ini silaturrahim kita tidak sempurna karena keterbatasan kondisi disebabkan kebijakan pemerintah yang melarang mudik namun kita tertolong dengan adanya kemajuan teknologi dan komunikasi kita bisa melakukan video call atau plat form komunikasi lainnya.
    3. Melanjutkan I’tikaf
      Merenung atau mengevaluasi untuk meningkatkan ibadah di bulan Syawal ini, bisa berupa shalat malam, peningkatan filantropi dan ibadah-ibadah lainnya.
    4. Menikah bagi yang sudah mampu
      Dianjurkan untuk menikah di bulan syawal bagi siapapun yang merasa dirinya sudah mampu untuk menikah

      Istiqomah ini sebisa mungkin jangan hanya dilakukan ketika bulan Syawal saja, namun untuk bulan-bulan selanjutnya (11 bulan menuju ramadhan) dan semoga umur kita panjang kemudian di pertemukan kembali dengan ramadhan berikutnya. Mengapa harus konsisten harus istiqomah?
      1. Untuk mengaktualkan nilai-nilai ketaqwaan dan islamisitas yang telah kita peroleh di bulan ramadhan.
        Taqwa menurut harfiah artinya segan atau takut, takut disini dimaksudkan takut melakukan hal-hal yang tidak benar. Secara istilah taqwa itu artinya terpelihara dirinya dari berbagai hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan sehari-hari. Nilai-nilai yang sudah dipelajari dan dipraktekkan di bulan ramadhan harus diterapkan dengan istiqomah dikehidupan sehari-hari, misalnya disiplin dengan waktu, kemampuan mengendalikan diri, dsb supaya puasa kita tidak hanya menjadi sekedar hal yang rutin saja dan sesuatu hal yang sudah menjadi rutin maka kemudian makna nya atau dampaknya tidak kelihatan.
      2. Mengintegrasikan diantara ibadah-ibadah mahdhoh dengan ibadah-ibadah di kehidupan sehari-hari.
        Seringkali kita beranggapan bahwa ibadah hanya shalat dan puasa, namun fakta nya banyak hal yang tidak kita sadari dalam kehidupan sehari-hari yang termasuk ibadah seperti menuntut ilmu, mencari rizki ibadah dan apa yang dilakukan demi kemaslahatan umat. Dimanapun kita berada niatkan itu sebagai ibadah sebagai bentuk pengabdian kita kepada Allah SWT.
      3. Meningkatkan filantropi Islam
        Indonesia menduduki peringkat pertama dalam global cerity index (index kedermawanan global) pada tahun 2018-2019, karena mayoritas penduduk Indonesia 87% lebih muslim maka dipastikan kaum muslimin ini terkena survei dalam kedermawanan dan kaum muslimin ini beruntung dalam 20 tahun terakhir sesuai dengan kemajuan ekonomi dan pendidikan maka terbentuklah kelas menengah muslim yang jumlahnya cukup besar mungkin sekarang berjumlah antara 90 sampai 100 juta orang, mereka inilah yang menjadi tulang punggung bagi filantropi itu dalam bentuk ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf), ini yang harus ditingkatkan terus menerus apalagi saat ini di masa pandemi banyak masyarakat yang terkena imbas nya secara ekonomi, maka dari itu penggalangan ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf) sebagai filantropi islam ini harus kita tingkatkan.
      4. Memperkuat kembali addaruriatul khoms (keharusan 5 hal)
        Yang harus diketatkan dalam 5 hal ini di era pandemi sekarag adalah Hifdzu nafs (memelihara jiwa).
  3. TANYA-JAWAB
    1. Ust. Muhammad Wahyudi, S.Fil.I., M.S.
      Pertanyaan :
      Apakah sama atau berbeda antara istiqomah dan mudawamah, dan apakah istiqomah ini berarti konsistensi atau kontinuitas ?

      Jawaban : Istiqomah jika diambil dari asal kata nya berarti berdiri tegak (konsisten), yang mana mengandung arti kontinuitas juga, jadi all inclusive meaning makna yang mencakup banyak hal termasuk konsisten, kontinuitas, kalau mudawamah berlangsung secara terus menerus hampir sama namun tidak terjadi peningkatan sedangkan istiqomah ini tingkat intensitasnya lebih tinggi dari hanya sekedar mudawamah, dan istiqomah juga mencakup kemampuan untuk menghadapi tantangan tidak tergoda oleh tantangan (internal dan eksternal).
    2. Saudara M. Badat Alauddin
      Pertanyaan : Terkait teori islam masuk ke nusantara tidak lewat Gujarat maupun Malabar, bapak kyai menolak perkataan itu, kami sedang meneliti tentang sanad keilmuan antara Indonesia dengan Hindustan apakah ada sambung atau tidak, karena ada beberapa tradisi akultursasi budaya dan perayaan hindu dan islam itu hampir mirip antara ulama di Indonesia dan ulama di Hindustan, dan saya meminta pendapat pak kyai apakah ada hubungan terkait teori ini ?

      Jawaban : Ada satu dosen di Universitas Wahid Hasyim Semarang yang pernah meneliti keistimewaan hubungan antara Hindustan dengan nusantara pada masa awal islam.
      Dan yang saya teliti terutama abad 16 -17 memang ada hubungan-hubungan keagamaan dan intelektual, misalnya hubungan keagamaan itu melalui naskah dari seorang ulama asal Hindustan namanya Fadhlullah Al-Burhan Puri menulis sebuah kitab tasawuf Tufatul Mursalah Ila Ruh An-Nabi, kitab yang ingin menjelaskan konsep menyederhanakan konsep wahdatul wujud dari Ibnu Arabi, namun ternyata belum mampu menjelaskan dan kemudian seperti dilaporkan oleh Abdul Ausingkel kepada gurunya di Haramain (Mekkah) Ibrahim Al-Kurani bahwa kitab Tufatul Mursalah ini menimbulkan kebingungan-kebingungan pemikiran keagamaan ditanah jawi, karena bukunya tipis namun bisa membuat orang menjadi zindiq. Kemudian guru dari Ibrahim Al-Kurani ini (Syeikh Yusuf Al-Makasari) menulis kitab untuk menjelaskan Tufatul Mursalah. Kemudian hubungan yang lain melalui tasawuf atau tarekat dan tarekat yang paling dominan yang berasal dari Hindustan itu tarekat satariyah. Awalnya cenderung sangat mistik karena tumbuh dilingkungan hindu sehingga kurang setia pada fiqh dan syariah, kemudian dibawa ke mekkah dan di Mekkah di reorientasikan sehingga lebih setia pada fiqh kemudian menyebar ke Nusantara.

      Memang saya menolak datang nya islam dari Gujarat karena menurut penelitian saya pada abad 13 ketika diasumsikan islam datang dari Gujarat, Gujarat itu masih kerajaan hindu dan mereka sangat tidak suka dengan orang islam, saya memegang teori mata air, bahwa islam datang ke Nusantara itu dari berbagai sumber dan sumber mata air yang terbesar itu dari Mesir, Irak dan dari Hijaz. Dan islam menyebar di Nusantara bukan oleh pedagang namun oleh guru-guru, pengembara yang berkarakter sufi misalnya wali songo.
  4. CLOSING STATEMENT (PEMATERI)
    Bersyukur bahwa tanah air kita Indonesia ini aman walaupun ada sedikit kegaduhan politik, kedamaian dan keharmonian yang ada di Indonesia ini tidak lai karena beruntung islam yang berkembang di tanah air kita itu adalah islam wasatiyah. Kita ini seperti ayat Al-Quran (Ummatan wasatan) selalu berada ditengah walaupun ada yang suka juga kekerasan walaupun sedikit. Kita berharap kawan-kawan semua yang sekarang berkesempatan menuntut ilmu di Pakistan juga dapat memperkuat itu (ummatan wasatan) sehingga indonesia bisa memainkan peran yang lebih besar, karena saya yakin hanya islam wasatiyah yang punya masa depan. Masa depan islam itu bukan dengan cara-cara yang ekstrim tetapi dengan cara-cara yang wasatiyah (tawasut, tawazun, I’tidal dan tasamuh). Kita bisa membangun peradaban jika kita itu adil (selalu ditengah). Tuntutlah ilmu sebaik mungkin dan pada saat yang sama juga memperkuat wasatiyah islam itu nanti.

Notulen : Yuniarti Tri Setiawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *