Kajian Inspirasi Ramadhan 6

Hari, Tanggal : Ahad, 9 Mei 2021

Waktu             : 17.00 – 18.45 PKT

Narasumber     : Prof. Dr. KH. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.

Sambutan        : Adam M. Tugio, S.H., LL.M.

Moderator       : Havila Azaria Ardine

Notulen           : Aulia Hifdzur Rahman

“Wasathiyah Islam dan Wacana Moderasi Dalam Islam”

Kata Washat Dalam Al-Qur’an

Disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 5 kali

  1. Al-Baqarah 143 (ummatan wasathan)
  2. Al-Baqarah 238 (wustha)
  3. Al-Maidah 89 (min aushati)
  4. Al-Qalam 28 (ausatuhum)
  5. Al-‘Adiyat 5 (fawasatna bihi jam’an)
    Artinya : tengah, adil dan pilihan

Dari Al-Qur’an :

Al-Baqarah : 143 Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (ummat islam) ummat pertengahan, agar kamu menjadi saksi (bukti) atas perbuatan manusia dan agar rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu.

Washat dalam tradisi arab

Kata washat digunakan untuk keturunan yang terhormat (wasat fi qaumihi) terhormat di tengah kaumnya atau yang termulia di antara kaumnya. Artinya :

  1. Kebaikan
  2. Keadilan
  3. Keunggulan
  4. Tempat yang mulia

Arti kata Washat

  1. Di tengah-tengah
  2. Pertengahan sesuatu adalah terbaik
  3. Paling adil
  4. Antara baik dan buruk
  5. Utama
  6. Bersikap adil
  7. Pertenghan antara dua belah pihak yang berseteru (Tafsir misbah al munir)

Dalam konteks ummat (menurut Sayyid Quthub)

  1. Ummat yang meletakkan keadilan antar manusia dan meletakkan nilai-nilai kebajikan
  2. Ummat yang tidak materialistis atau spiritualistis
  3. Ummat yang tidak terlalu mementingkan pikiran (rasionalis) atau pengalaman (empirisis) saja.
  4. Ummat yang tidak mementingkan sains  saja atau tekonologi saja
  5. Ummat yang tidak mementingkan individu saja (kapitalis) atau masyarakat saja (sosialis)

Definisi Washatiyah

Washat : sesuatu yang ada di tengah, atau sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurnya sebanding

Washat adalah nilai-nilai islam yang dibangun atas dasar pola pikir lurus dan pertengahan, tidak berlebihan dalam hal tertentu. Ummat washatan adalah ummat yang adil dan terpilih, ummat yang palimg sempurna agamanya, paling baik akhlaqnya, paling utama amalnya.(raghib al isfahani,mafhum al wasathiyah)

TANTANGAN INTERNAL

  1. Wasathiyah VS Ghuluw

Surat An-Nisa : 171
Janganlah melampui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan tentang Allah kecuali yang benar

2. Macam -macam ghuluw (ekstrim)

  • Ghuluw aqidah dan shariah

Ghuluw aqidah berlebihan dalam meyakini aqidah seperti dalam masalah imamah, kemaksuman mereka dalam syiah. Ghuluw shariah adalah berlebihan dalam menjelankan syariah islam

  • Ghuluw amaliyah

Amaliyah adalah berlebihan dalam melaksanakan bagian-bagian dalam syariah yang berkaitan dengan amalan-amalan(Al-Shalabi,wasathiyah fi Al-Rur’an)

3. Contoh Ghuluw

  • Mewajibkan diri dan orang lain untuk mengerjakan yang tidak di wajibkan Allah.
  • Mengharamkan hal-hal baik yang di perbolehkan allah

TANTANGAN EKSTERNAL

Wasathiyah VS Moderat

  1. Moderat ala liberal
    Muslim moderat adalah yang tidak anti semit, kritis terhadap islam, menganggap nabi muhammad tidak mulia dan tidak perlu diikuti.
  2. Moderat ala barat
    Moderat adalah yang percaya pada demokerasi, toleransi, pendekatan politik, tanpa kekerasan, perlakuan yang sama terhadap wanita dalam masalah hukum dan social.
  3. Moderat ala HAM
    Muslim moderat ham adalah mereka yang menerima kultur demkerasi dalam kehidupan sosial, mendukung HAM dll.
  4. Moderat ala plularitas
    Muslim muslim moderat pluralitas adalah mereka yang menerima ide evolusi, yang menolak literalisme dalam memahami kitab suci.
  5. moderat ala atheis
    muslim moderat atheis adalah mereka yang menghormati hak orang menafsirkan Al-Qur’an, hak ibadah mereka kepada Allah dengan cara mereka sendiri.

Kesan negatif atas pesantren

Pesantren adalah

  1. Tempat pembibitan terorisme
  2. Lembaga terkait dengan terorisme
  3. Tempatnya fundamentalis indonesia
  4. Tempat berlatihnya teroris
    (terjemahan “Australia May Fight Terror Through Indonesian Schools”, wartawan australia)

Kesan positif tentang pesantren

Mempelajari islam di pesantren merupakan pengalaman yang memperluas wawasan, belajar di pesantren tidaklah menyempitkan pandangan mereka atas fenomena global. (George Quinn, Lecturer Australian National University)

WASHATIYAH VS MODERAT

Wasathiyah

  1. Pro syariah tetap toleran
  2. Bersikap adil dalam semua hal
  3. Hargai manusia
  4. Dll

Moderat

  1. Anti nabi, anti syariah
  2. Anti jihad
  3. Pro sekuler, pro Israel

KESALAHAN PERSEPSI UMMATAN WASHATAN

  1. Faham ummat wasathan disamakan dengan pengertian moderat di barat, sehingga moderat berarti sikap yang pro barat tersebut.
  2. Ummat islam yang tidak moderat seperti pengertian barat adalah radikal dan intoleran.
  3. Moderat akhirnya disamakan dengan toleransi : tapi toleransi diartiakan sebagai permisif terhadap segala sesuatu meskipun yang bertentangan dengan islam.
  4. Yang lebih salah kaprah lagi stigma radikal disematkan kepada muslim yang komit dengan ajaran islam dan tegas pada faham dan bertentangan dengan islam.
  5. Yang memprihatinkan agar disebut moderat muslim malah setuju dengan faham-faham barat.

MODERASI ISLAM

Makna Ummatan Washtan

  1. Tashawuf dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama ummat islam tidak berlebihan (ifrat) dan tidak (tafrit)
  2. Tawazun islam adalah agama yang mengajarkan ketegasan antara penyimpang (ihtirat) dan perbedaan (ikhtilaf)
  3. I’tidal tidak hanya mengajarkan ummatnya mencari harta sebanyak-banyaknya, tapi juga mengajarkan hidup berbagi dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.
  4. Seluruh kehidupan ini adalah ibadah, tapi ibadah disini merupakan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara ritual individual dan social.
  5. Syura islam adalah agama yang mengajarkan ummatnya untuk bermusyawwarah dalam menyelesaikan masalah dan perselisihan. Melakukan islah dalam setiap perselisihan dua belah pihak.

MUHSIN

  1. Berfikir
  2. Berkata
  3. Berbuat
  4. Merasa
  5. Melihat

Sikap Washathiyah Ummat Islam

  1. Adil, baik dan mulia.
  2. Hidup seimbang (Dunia akhirat, material, spiritual, antara rasional empiris, individual  social)
  3. Tengah-tengah sifat tercela (bakhil-tabzir, antara ghuluw dan tasawuf)
  4. Tidak eksklusif dan tidak permisif.

Notulen : Aulia Hifdzur Rahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *