Kajian Inspirasi Ramadhan 5

Hari, Tanggal : Ahad, 2 Mei 2021

Waktu             : 17.00 – 18.45 PKT

Narasumber     : Prof. Dr. H. Syafiq Mughni, M.A.

Sambutan        : Adam M. Tugio, S.H., LL.M.

Moderator       : Andi Mutiah Azzahra

Notulen           : Rahmat Bimasatria Lesmana

“Muhasabah Diri dan Kesalehan Amal”

Di dalam Al Qur’an disebutkan :

وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا

Artinya : “Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak” Al-baqoroh : 269.

Ukuran dari muhasabah adalah ajaran islam. Apakah kita semakin jauh atau semakin dekat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita tidak boleh merasa islam kita paling bagus. Selain Nabi kita Rasulullah SAW tidak ada yang melebihi beliau dalam kesalehan amal. Kalau kita sudah mengklaim islam kita sudah bagus, jangan-jangan kita termasuk orang yang kurang.

Dalam berislam, teruslah kita merasa kurang, agar semakin mendekat. Teruslah bermuhasabah. Di dalam Al-Qur’an, tentu kita banyak mendapat ayat-ayat yang mendukung ini. Juga perkataan sahabat sayyidina Umar R.A. :

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

“bermuhasabahlah diri kalian sebelum dihisab”

Ada ajaran yang sangat relevan untuk ini terutama dalam kesalehan social, yaitu niat untuk ibadah semata kepada Allah SWT saja. Ada beberapa prinsip yang harus kita pahami, bahwasannya islam menjunjung tinggi dalam semangat kemanusiaan. Salah satu norma-norma yang digariskan ialah kita dilarang terjebak dalam ghuluw atau berlebih-lebihan, Sehingga di dalam beragama ini kita wasathiyah.

Keunggulan-keunggulan islam inilah yang perlu kita hayati bersama dan kita syiarkan. Islam itu ya’lu wala yu’la ‘alaih (tinggi dan tidak ada yang menyaingi tingginya) Kita dilarang untuk berlebih-lebihan dalam berpuasa, seperti berpuasa dari pagi sampai pagi lagi, itu karena penghargaan dalam kemanusiaan. Bahkan ketika sahabat mendengar penjelasan Nabi SAW tentang keutamaan puasa dan sebagainya. Maka sahabat bertekad untuk berpuasa terus-menerus sepanjang masa, juga akan meninggalkan hal yang bersifat duniawi. Maka nabi SAW bersabda – “Sesungguhnya ada hak fisikmu itu yang harus engkau berikan, ada hak bagi matamu yang harus engkau penuhi, dan keluargamu juga punya hak yang harus engkau penuhi”.

Ajaran tentang kesalehan sosial di dalam islam menjadi sangat penting. Banyak hadist-hadist yang telah dieksplorasi para ulama. Nabi SAW pernah bersbda bahwa “kita belum disebut orang beriman kalau orang di dekat kita masih merasakan kesusahan”

Dalam islam sesubgguhnya hablum minallah itu penting, hablum minannas itu penting, tapi keduanya bukan merupakan hal yang eksklusif. Bahkan bukan hanya mu’amalah ma’annas, tapi juga mu’amalah ma’al hayawan. Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan kita berbuat ihsan bagi yang lain. Contohnya apabila engkau membunuh binatang, bunuhlah dengan cara yang terbaik, apabila engkau menyembelih binatang, sembelihlah dengan cara yang terbaik, seperti pertajamlah pisaunya. Sampai kepada binatangpun kita harus melakukan yang terbaik, tanpa adanya penganiayaan.

Sesuai di buku Al-Qirooatur-Rosyidah, disana diceritakan bagaimana ada seekor burung yang terjebak kesepian. Pemilik burung merasa kalau burung itu selalu Bahagia dari suaranya. Namun hakikatnya burung tersebut sedih karena terjebak. Karena fitrohnya burung hidup di udara. Maka itu adalah suatu kedzoliman yang mana manusia mengurung burung tidak sesuai fitrohnya. Saya juga melihat di Sebagian daerah bahwasannya cara menyembelih masih salah dan tidak punya rasa hewani. Dunia sudah menunjukkan yang cukup serius. Beberapa hari ini saya mengikuti seminar untuk melindungi dan menyelamatkan lingkungan tempat hidup kita. Oleh karena itu maka kita punya kewajiban untuk mewujudkan ini semua yang disebut dengan ummatan washatiyah. Bukan hanya pemahaman yang bersifat akademik, tapi juga pemahaman yang bersifat sosial.

Saya masih jarang melihat ulama-ulama kita yang mensyiarkan sistem wasathiyah ini untuk meningkatkan semangat keagamaan. Sehingga betul-betul islam itu ya’lu wa la yu’la ‘alaih. Serta menghindari islamophobia.

Tantangan yang lain tentu ada yang bersifat internal dan juga eksternal. Kita masih melihat intoleransi. Padahal ada Lembaga yang kita sebut ijtihad, ijtihad tersebut bisa salah bisa benar. Apabila benar maka mendapatkan 2 pahala, apabila salah maka mendapatkan 1 pahala. Itu berarti apabila kita yakin bahwasannya hanya ada satu islam, tetapi pemahaman dan pengamalan bisa berbeda-beda. Bayangkan kalau kita bersikap absolutis, merasa paling benar dan selainnya salah. Apalagi jika kita melakukan takfiri, mengkafirkan orang, ini menjadi problem, jangan-jangan kembali kepada diri kita sendiri. Kemudian juga umat islam masih belum memiliki spirit ukhuwah, mudah sekali diadu domba, terlibat dengan ketegangan konflik, disebabkan karena ukhuwah yang rendah, serta pengetahuan yang kurang. Bagaimana konflik yang terjadi di Sebagian negara-negara islam. Isunya ialah karena kepentingan-kepentingan politik madzhab masing-masing. Ini menyebabkan memperlemahnya semangat ukhuwah dalam keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *