Kajian Inspirasi Ramadhan 2

Hari, Tanggal : Ahad, 18 April 2021

Waktu             : 17.00 – 18.45 PKT

Narasumber     : Imam H. Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D.

Sambutan        : Adam M. Tugio, S.H., LL.M.

Moderator       : Winda Nurul Jannah Ghilman

Notulen           : Izzudin Ilyas

MODERASI ISLAM
DAN MEMAKNAI TOLERANSI BERAGAMA”

Oleh : Ust. Imam Shamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D.
(Alumni S1-S2 IIU Islamabad, Founder of Nusantara Foundation, Imam in Islamic Center of New York and Imam in Jamaica Muslim Center of New York)

“Sebenarnya Inti dari ajaran islam adalah terkait Toleransi, Moderat dan Tawazun. Karena di dalamnya terkandung makna keadilan.”

Mengingat dulu ketika mahasiswa di IIUI. Berangkat menuju Islamabad 1988, pada  tahun 1991 sudah tinggal di pakistan bersama istri. Bahkan dengan izin Allah SWT anak pertama lahir di pakistan.

Pertama, Kita perlu bersyukur karena kita dipilih oleh allah untuk mengenal Allah. Mengapa, karena dengan mengenal Allah lah kita bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan setelahnya yaitu salah satunya makna keadilan. Teringat Pasca kejadian 911 (11 september 2001) sebuah kejadian yang dahsyat dan pandangan dunia terhadap islam sangat berubah, namun justru kita dipilih untuk jadi imam di islamic center. Singkatnya, ada anak muda marah kepada saya, seperti umumnya pemuda di amreka berbadan tinggi dan besar. Saya bertanya “Kenapa Anda marah?” lalu dia menjawabnya “saya hidup seperti mesin, pagi bangun, lalu bekerja, pulang, lelah dan kemudian istirahat. Setiap hari saya merasakan seperti itu” saya mengingat itu yang mana artinya pemuda itu tidak memahami orientasi hidup. Padahal, kurang sejahtera apalagi pemuda itu, pemuda itu adalah Arsitektur. Sukses karir dan bekerja profesional. Kalau teman-teman pergi ke New York, pekerjaan yang paling mapan adalah Arsitektur. Singkat cerita pemuda itu masuk islam.

Agama itu dahsyat. Kita bisa merasakanya ketika kita hidup di tengah-tengah non muslim, betapa majunya sebuah agama, betapa dahsyatnya Agama kita Islam. Maka sudah seharusnya kita bersyukur kepada Allah. Bersyukur lagi ditakdirkan menjadi bangsa Indonesia. Sejauh mana kita berjalan semakin kita menjadi lebih bersyukur. Mulai dari Kekayaan dan keindahan alamnya serta masyarakatnya yang unik yang dimiliki Indonesia.

Keragaman yang kita miliki. Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, sekaligus menjadi negara demokrasi ke-3 di dunia. Menjadi modal hidup di tengah-tengah manusia beragama. Hingga akhirnya, Agama dan Negara di Indonesia menjadi kebanggaan. Salah satu kekayaan kita adalah kreasi, bahwa masyarakat Indonesia adalah kreatif inovatif. di mana saja kita keliling kita selalu menemukan kuliner khas indonesia. di USA, di Australia dll. Hampir ada semua makanan ada di Indonesia dari aceh hingga papua. Kita bersyukur sebagai masyarakat Indonesia.

Oleh karenanya, bangsa Indonesia harus kita pertahankan terus menerus.

Pada kesempatan mulia ini, saya ingin memulai dengan begini, Ada 2 pegangan kita dalam menjalankan agama : Satu beragama dengan penuh komitmen dan dua penuh kecerdasan.

  1. Komitmen : sudah jelas kiranya. Dalil

یٰیَحۡیٰی خُذِ الۡکِتٰبَ بِقُوَّۃٍ ؕ وَ اٰتَیۡنٰہُ الۡحُکۡمَ صَبِیًّا

Artinya : “Wahai yahya! Ambillah (pelajarilah) kitab itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (yahya) selagi dia masih kanak-kanak.

Membangun komitmen bangunlah dengan kecerdasan. Maka rasionalitas di dalam ajaran agama kita sangat penting.

2. Penuh kecerdasan : Saya pernah satu panggung dengan penulis terkenal karen Armstrong, kita berdialog. Saya bertanya kepadanya : “Anda kan ahli agama-agama, kalau semua agama adalah makanan, Makanan mana yang paling enak menurut anda? apakah budha, hindu, ataupun yang lainya.” Lalu beliau menjawabnya dengan tidak langsung menunjuk. “jika semua agama adalah makanan, maka saya masih belajar resep, tapi saya harus katakan jujur, bahwa tiada agama yang lebih rasional melebihi islam.” Islam adalah agama yang sangat rasional, sayangnya kita masih kurang menggunakanya. Mari kita belajar lebih rasional. Aqidah kita telah mengajarkan komiten, agama kita sudah jelas dan pada saat yang sama harus cermat.

Moderasi telah dibahas definisinya oleh banyak tokoh, mulai dari syekh Dr. Yusuf Al-Qardawi dan sebagainya. Tetapi penjelasan yang singkat bisa kita gambarkan agama sebagai ruangan, ruangan yang memiliki batas-batas. Ada batasan sebelah kanak, kiri, depan dan belakang. Kita disuruh untuk memperbaiki ruangan kita ini dengan kesungguhan. Itulah yang diistilahkan di Al-Qur’an :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا

Artinya : “itulah batasan-batasan Allah maka janganlah engkau melampauinya” Al-Baqarah : 229

Maka agama kita ini sudah jelas. Moderasi artinya jangan keluar-keluar dari batasan itu.

Dalam al-qur’an, kata moderasi diistilahkan sebagai tawassuth:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Artinya : “dan demikianlah kami jadikan kalian umat pertengahan” Al-Baqarah : 143

Kalimat pertengahan ini banyak maknanya, di dalam bahasa inggris misalnya “midle pass” jalan tengah, ada yang mengatakan “justice balance” keadilan yang berkeseimbangan. Atau diterjemahkan “moderasi” atau yang sedang kita bincangkan pada kesempatan ini.

Pada pertemuan kali ini, untuk memahami lebih jauh kata “moderasi” ini kita ambill dari pertemuan ulama internasional yang digagas oleh bapak Din Syamsuddin di bogor yang mana pada saat itu beliau menjabat sebagai wakil presiden dalam hubungan antar agama, beliau mengatak bahwa makna “moderasi/washatiyyah” itu memiliki 7 karakteristiknya tapi bisa kita bisa menjadikanya 5 karena 2 di antaranyabisa digabung.

Yang pertama adalah Al-I’tidal (keadilan) artinya adalah umat yang moderat adalah umat yang berkeadilan dan menjaga keadilan. Keadilan harus ditegakan.

Yang kedua adalah As-Shamha (toleransi) kita bisa melihatnya bagaimana Rosulullah SAW di madinah, beliau adala Rasul dan raja. Walaupun beliau seorang Rasul tapi beliau mengumpulkan semua elemen masyarakat hingga menghasilkan yang kita kenal piagam madinah. Dan piagam madinah itu menjadi karakteristik daritoleransi. Sebagai civic konstitusi. Beruntunglah kita yang tinggal di Indonesia ada yang kita sebut sebagai komonalitas, di Indonesia yaitu pancasila.

Yang ketiga adalah Asyuraa (musyawarah) partisipasi semua pihak. Yang keempat adalah Al-Qudwah (keteladanan) : yaitu membangun keteladanan. Mengapa? Karena

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Artinya : “kalian adalah sebaik-baik ummat”

Ciri moderasi yang kelima adalah Al-Muwatonah (kebangsaan/nasionalisme) Sejak revolusi perancis, realita kehidupan kita berbeda, kita berubah enjadi nation state. Al-qur’an sudah memprediksikan itu :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟

Artinya : “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”

Dan Inilah yang terjadi di Indonesia. bahwasanya kita untuk bisa menghormati komitmen karakteristik setiap bangsa masing-masing. Serta salah satu kebanggan kita adalah bisa menggabungkan komitmen keislaman kita dan komitmen kebangsaan kita. Maka jelas sekali moderasi menuntut komitemn kebangsaan. Jangan kita pernah merasa “kalau kita berkomitmen dengan kebangsaan, tidak berkomitmen kepada islam” atau sebaliknya “kalau kita berkomitmen dengan keislaman, tidak berkomitmen kepada kebangsaan”

Kebalikan dari moderasi yaitu Ektrimisme dan Radikalisme. Dalam bahasa arab biasa dibeut At-tathorruf atau Al-Ghuluw. Hadits :

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ

Artinya : “Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian”

Rasulullah sudah mengingatkan sejak dulu, bahwa berlebihan-lebihan bisa membawa berbahaya bagi kita. Kita merasakan tedensi yang tinggi. Yang berlebih-lebihan dini di agama manapun ada, yang baru-baru ini seperti yang terjadi di New Zeland sebanyak 51 umat muslim terbantai. Ini adalah akibat terjadinya berlebih-lebihan. Kita sebagai umat muslim harus jujur, karena kita adalah umat yang anti radikalisme dan anti ekstrimisme. Karena ajaran agama kita secara inheren pondasi sangat toleransi, seperti yang kita sebutkan tadi.

Ada 10 kenapa ada tedensi radikal :

1. Hilangnya nilai-nilai wawasan dalam beragama. Iqra’ berarti kembangkan wawasan.

Jika kita bisa menambah wawasan kita, maka kita membangun hubungan antar agama. Kami bertemu dengan rahib Yahudi dan berdiskusi, di pusat ekonominya Yahudi yaitu new york, bagaimana mungkin saya (orang muslim) bisa bertemu bahkan berdialog dengan mereka yang selama ini di kepala kita hanya iblis semua (yahudi) tetapi faktanya kita bisa dan berdiskui panjang tentang palestina, itu karena kita berkomitmen membangun wawasan.

2. Yang kedua terkait membaca konsep Mati di Jalan Allah. Moto kita sebagai muslim. Setiap muslim menginginkan mati di jalan Allah.,Tapi bagimana? Apakah instan? Kalau mau lalui proses, yaitu hidup di jalan Allah. Kita terobsesi Mati di JalanAllah tapi lupa padaAl-Hayah (hidup) di jalan Allah. Ini yang kita rapikan cara pandang kita terhadap agama bukan mengubah A-Qur’an dan As-Sunnah.

3. Religious resources kita, sumber keagamaan. Jangan memahamai hanya literal saja tapi konstektual.

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟

Artinya : “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”

Ada masa yahudi amerika banyak membantu. Pasca larangan dari presiden trump kepada orang islam amerika. Karena mereka juga pernah menjadi imigran di amerika oleh keganasan hitler. Bersama-sama berdemonstrasi “today i am a moslem to” mereka (yahudi) mengatakan “Anda larang orang islam masuk amerika, larang dulu kita.” Mengapa? Jawabanya karena kita membangun persahabatan. Kalau tidak kita akan terculik pemahaman-pemahaman yang justru membahayakan kita

4. terlalu formal, hingga hilang nilai spritual. Semua amal ibadah seharusnya mengantarkan dampak yang baik misal, sholat : hilangnya perbuatan munkar dan keji.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya : “sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar”

Kemudia puasa, menghilangkan perkataan yang sia-sia.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya : “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan untuk meninggalkan makanan dan minumannya” Mari kita memahani ayat-ayat suci jangan hanya secara literal tetapi kontekstual. Karena pada semua kitab suci jika tidak dipahami konteksual maka bisa mengantarkan pemahaman yang berbahaya.

6. islama selalu taawun di atas konflik. Mari membangun kerja sama, karena bagaimanapun kita memiliki kesamaan. Seperti terkait konflik Palestina dan Israel. Posisi Indonesia masih kokoh, sebelum kemerdekaan palsetina diberikan, bangsa kita tidak pernah mengakui israel. Bahkan kekokohan kita lebih kokoh dibanding negara-negara timur.

9. jangan benturkan nilai-nilai. Bahwa islam tidak penah membentur-benturkan nilai, ketika islam masuk ke Indonesia tidak pernah membenturkan nilai-nilai lokal. Islam menyempurnakan bukan untuk menghancurkan.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya : “Sungguh aku diutus menjadi rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” 10. sifat moderasi yang terakhir adalah karena realita dunia kita yang global. karakteristiknya adalah terjadi percepatan informasi (interconnectedness) tidak ada manusiayang bisa hidup sendiri. semua membutuhkan gotong royong untuk perdamaian.

هدنا الله و أجمعين

Pertanyaan-pertanyaan :

1. Ust. Abdul Wahid Azhari Ritonga, Lc.

Bagaimana pandangan antum tentang world zionis organization atau organisasi zionis internasional, karena kita pernah berdialog berkenaan ini yang didirikan oleh theodor herzl. Apakah konsep-konsep tersebut masih mengacu dan berlaku?

Jawaban :

Yahudi beragam, mereka memiliki banyak sekte : dari ultra ortodoks, ortodoks, modern ortodoks, konservatif, dan lain sebagainya. Dan masing-masing punya pemahaman dalam konteks agama. Kemudian dalam konteks politik, mereka juga memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Justru ada kelompok Yahudi yang menantang eksistensi israel. Tidak banyak memang, namanya Narturah semacam Yahudi sufi. Mereka yakin Yahudi hanyalah spritual.

Sedangkan Yahudi yang mainstraim itu menyakini bahwa yerusalem atau masjidil Aqsa adalah bagian dari iman mereka, persis sebagaimana keyakinan  umat islam (kita) menyakini bahwa yerusalem/Masjidi Aqsa adalah bagian dari islam karen tempat isra’ mi’rajnya Rasul SAW. jumlahnya sekitar 80% yang mendukung, tetapi di antara mereka juga beragam terkait kekejaman, operasi, kependudukan yang dilakukan oleh zionis. Ada yang menantangnya. Bahkan ada (kawan) seorang rabi Yahudi dideportasi ke amerika lagi karena dia orang yang mjenentang kebijakan netanyahu.

Zionis ini adalah salah satu kelompok politik Yahudi yang yakin bahwa Yahudi harus memiliki posisi sebagai penguasa dunia. Itulah zionis, tapi inilah kelompok radikal dalam zionis. Dalam islam juga ada menyakini bahwa zionis inilah yang mewakili Yahudi, nah inilah yang harus dimengerti kita semua. Masalahnya banyak juga Yahudi yang tidak satu pemahaman dengan zionis ini. Saya juga mengajak kepada masyarakat untuk selalu jeli dalam melihat sekelompok, mungkin kesimpulanya adalah kalau ingin diperlakukan baik oleh orang, berperilakulah baikkepada oranglain karena adil kepada orang lain adalah adil kepada diri sendiri.

2. Ust. Muhammad Wahyudi, S.Fil.I., M.S.

Saya pernah mendengar ketika antum diwawancari Refly Harun di podcastnya. Bahwasanya dahulu ustadz pernah di Arab Saudi setelah lulus dari pakistan, antum merasakan ketidak nyamanan dengan penyeragaman agama yang terjadi di Saudi Arabia. Itu bagaimana yang sebenarnya terjadi?

Jawaban :

Saya di Arab Saudi mulai dari tahun 1995 pertengahan sampai tahun 1996 akhir bekerja sebagai da’i di kantor dakwah di bawah kementerian wakaf. Pada waktu itu keresahan saya pada perilaku TKI dan TKW sangat luar bisa, setiap selesai kajian peserta bukanya bertanya tetapi mengeluh karena ulah majikanya. Yang kedua memang ada penyeragaman tafsir dalam agama, terkadang di arab saudi berbeda penafsiran tidak dianggap berbeda tetapi salah. Akhirnya pada suatu kajian saya ditanya oleh jamaah “ustadz, apa hukumnya mendirikan bangunan tinggi di samping masjidil haram?” saya sampaikan hadits terkait tanda-tanda akhir zaman bahwa orang-orang mendirikan rumah lebih mewah daripada masjid-masjidnya. Rupanya di antara audiens ada yang memata-matainya, besoknya saya dipanggil oleh atasan saya dan dimintai keterangan. Itu yang membuat saya resah di Arab Saudi. Dengan segala kehormatan saya di Arab Saudi yang terdapat masjidil harom dan masjid nabawinya. Islam dan kebebasan seperti ikan dan air, walaupun ikanya besar, kuat tapi airnya kurang ikan itu pelan-pelan akan mati. Walaupun ikanya kecil, kurus tetapi airnya banyak maka lama-kelamaan ikanya akan membesar. Itulah islam yang di amerika dan eropa saat ini.

3. Riyadi Budiman, Universitas Tanjungpura Pontianak.

Bagaimana pandangan Amerika atau dunia Barat terhadap Islam dan kerukunan umat beragama di Indonesia?

Jawaban : Dulu kami sampai di amerika tahun 1996 lebih tepatnya mendarat di New York bertanya-tanya, mengapa Islam itu selalu identik dengan timur tengah, asia selatan, atau setidaknya afrika. Hingga akhirnya ketika tragedi 911 kami diundang wali kota new york terkait 911. Pertanyaanya mengapa kami diundang, mengapa bukan arab dan sebagainya. Jawabanya baru disadari beberapa tahun belakang, ternyata amerika menginginkan wajah islam indoensia yang bisa dibanggakan. Maka di sinilah kita sebagai bangsa Indonesia tertantang untuk menjadi wajah islam yang bukan menakutkan, bukan ancaman, tetapi islam yang membangun, islam yang merangkul, islam yang mencintai dengan rahmat. Kami dengan keterbatasan berusaha untuk menjadi menampilkan islam yang Rahmatan lil ‘Alamin.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Artinya : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

Clossing statement :

“Dalam kehidupan pribadi ada transformasi yang terjadi. Mari kita berusaha untuk melakukan perubahan yang besar dalam hidup kita. Rubahlah cara pandang kita bukan agama kita, agama tidak berubah, Al-Qur’an dan sunnah sama dan tidak ada yang bisa mengubah. Kita harus hati-hati, mari kita luaskan pandangan kita dan keilmuan kita. Semoga kita menjadi wakil islam yang rahmatal lil ‘Alamin. Ambil itu sebagai amanah, di manapun kita ditempatkan.”

هدنا الله و أجمعين

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *