FoMO : Resah Untuk Selalu Merasa (Up to Date)

Dunia semakin hari semakin berubah tanpa jeda dan lelah, teknologi sudah menjadi separuh bagian hidup manusia. Gadget sudah menjadi teman, bahkan juga sudah dianggap sebagai keluarga. Tatkala setelah datangnya pandemi COVID-19 kehidupan manusia berubah secara drastis, ada istilah baru dikalangan anak muda yang mana muncul ketika adanya pandemi. Istilah “kaum rebahan” menjadi tidak asing di kalangan remaja dan term ini pun digunakan karena kondisi dunia saat ini sedang berubah secara drastis, seluruh manusia diwajibkan untuk tinggal di dalam rumah guna menghindari pandemi. Pembelajaran pun dialihkan kepada gadget dengan sistem daring atau online.

Anak muda yang ketika itu terbiasa dengan kegiatan sosial ataupun kegiatan sehari-hari yang lebih sering dihabiskan diluar rumah pun menjadi berubah. Menjadikan gadget adalah satu-satu nya alat penting dan sangat dibutuhkan. Pembelajaran yang semakin mudah dilakukan secara online membuat aktivitas mereka habis didalam rumah atau istilah mereka dengan “rebahan”. Ya, dengan rebahan mereka masih bisa beraktifitas, menghasilkan uang, belajar seperti mana biasanya, namun ada juga yang tidak memanfaatkan kemudahan ini. Mengisi harinya hanya dengan rebahan dan membuka sosial media yang mungkin tidak terlalu berdampak positif bagi mereka.

Era digital saat ini menjadikan dunia yang begitu luas menjadi sempit, orang yang begitu jauh keberadaannya menjadi terasa sangat dekat. Sosial media seperti Instagram, Twitter, Youtube, dan lain sebagainya menjadi nyawa bagi generasi sekarang, tidak perlu naif bahwa kita pun demikian adanya. Hingga akhirnya muncul dampak yang menimpa beberapa kalangan dari anak muda, yang biasa disebut dengan FoMO atau Fear of Missing Out. Apa sebenarnya FoMO itu? Apakah bahaya jika diri kita terkena FoMO yang menjadi salah satu dampak dari sosial media?

FoMO merupakan suatu istilah yang digunakan untuk seseorang yang takut tertinggal akan suatu informasi atau tren yang terus berkembang. FoMO bisa dikatakan sebagai gangguan mental yang menyerang seseorang, sehingga ia merasa takut, cemas, atau bahkan stress ketika ia tertinggal informasi atau tren terbaru. FoMO juga bisa menyerang mereka yang merasa cemas atau takut ketika ia tidak berada di suatu kejadian atau kegiatan yang mana teman-teman atau lingkungannya mengikuti dan mereka bergembira dengan adanya hal tersebut. Ia merasa sedih , khawatir tentang dirinya yang nantinya tertinggal kabar atau ia tidak merasakan suka cita yang dirasakan oleh lingkungannya.

Fenomena ini sudah banyak menyerang generasi muda di zaman sekarang. Kebiasaan dan pola hidup mereka yang tergantung dengan sosial media menyebabkan FoMO dengan mudahnya menyerang mereka. Sebagai mahasiswa, gadget adalah alat yang selalu kita bawa kemana-mana dan bahkan kita akan merasa janggal jika lupa akan keberadaannya. Begitu juga sosial media pun menjadi sesuatu yang wajib untuk kita buka dan cek setiap harinya.

Orang yang terkena FoMO akan terus memantau sosial media yang ia miliki, mereka akan selalu membukanya tiap waktu, seperti halnya mereka akan terus mengikuti story Instagram teman-temannya, ia harus tahu apa yang teman-temannya lakukan, dan jika ia melihat bahwa teman-temannya berada dalam suatu kegiatan atau mereka mempunyai barang yang mungkin tidak kita miliki atau kegiatan yang tidak kita ikuti, kita akan merasa cemas, sedih, takut, bahkan stress memikirkannya. Diksi yang simple untuk mendeskripsikan fenomena ini adalah mereka berlomba-lomba menjadi yang paling Up to Date dan takut tertinggal meski hanya satu informasi saja. Wah, bukankah fenomena ini sangat berbahaya sekali bagi kesehatan mental kita?

FoMO menjadikan banyak dari anak muda mengalami gangguan dalam berhubungan sosial. Gangguan ini tidak hanya secara offline bahkan Online juga. Banyak dari mereka yang merasa kecewa atau resah belum memiliki sesuatu seperti kebanyakan orang lainnya. Mereka geram dan marah bahkan tak ayal melontarkan kata-kata kasar baik kepada orang yang ditemuinya atau ketika ia berkomentar di sosial media. Tidak hanya itu, FoMO juga menjadikan banyak anak muda yang boros dalam hal keuangan. Mereka menjadi sangat konsumtif karena takut akan ketinggalan tren yang tengah naik daun.

Apakah FoMO bisa dicegah? Atau bahkan dari kita yang merasa sudah terkena FoMO bisa diatasi??

Ya, FoMO sangat bisa dicegah dan diatasi. Bahkan ada istilah atau term baru yang muncul pada saat ini dan itu merupakan obat dari FoMO, sebagian orang biasa menyebutnya dengan JoMO atau Joy of Missing OutJoMO adalah rasa kepuasan diri atas apa yang sudah ia lakukan dan ia miliki, serta perasaan tidak takut atas tidak keterlibatan dirinya dalam suatu kegiatan. Mereka yang JoMO merasakan hidupnya tenang dan tidak terlalu memikirkan tren yang ada. Ia lebih memilih untuk mensyukuri dan menikmati hidup yang mereka punya dan mereka lebih memperhatikan kebahagiaan diri mereka sendiri.

Jadi, FoMO sangat bisa dicegah dan diatasi dengan mengubah pola pikiran kita yang negatif menjadi positif, kita juga bisa lebih mensyukuri segala hal yang kita punya, memanfaatkan waktu luang yang dipunya dengan mengerjakan hal-hal positif dan tidak terlalu larut dalam memainkan sosial media. Cukup sosial media menjadi alat untuk menambah wawasan dan ilmu kita. So, tidak harus menjadi yang paling Up to Date dan jangan pernah takut untuk tertinggal akan sebuah informasi dan tren dari orang lain, cukup memperbaiki kualitas diri kita, menambah ilmu sebanyak-banyaknya, dan menikmati hidup yang kita punya. Karena banyak hal indah dalam hidup kita yang mereka tidak miliki di hidup mereka.

Oleh : Widad Nur Fauziyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *