Fenomena Pendidikan yang Harus Kita Obati Bersama

Fenomena baru muncul di dunia pendidikan Indonesia, diantaranya beberapa murid sudah berani melawan gurunya ketika diperingati agar tidak melanggar peraturan sekolah, bahkan yang lebih fenomental lagi seorang anak sudah berani durhaka melawan kedua orang tuanya seakan-akan mereka lupa siapa yang telah mengasuhnya mulai sejak di kandungan ibunya hingga dewasa. Dua contoh fenomena baru yang dikenal dengan istilah dekadensi moral di zaman yang penuh teknologi ini sudah mulai mengakar dan semakin baragam di tengah-tengah masyarakat, lalu siapakah yang bertanggung jawab akan semua fenomena ini? Semua lapisan masyarakat mulai dari lingkup paling kecil yaitu keluarga, sekolah dan negara harus ikut bertanggung jawab mengobati penyakit ini sebelum mengakar terlalu dalam dan sulit untuk disembuhkan. Para guru di berbagai macam lembaga pendidikan memang mempunyai peran penting untuk mengobati penyakit ini, akan tetapi ketika semua lapisan masyarakat yang lain tidak ikut andil dalam memberantas dekadensi moral ini maka hasilnya pun nihil. Salah satu balai pendidikan formal yang paling penting ialah sekolah, dimana seorang anak sekolah mendapatkan beberapa materi pelajaran yang mereka terima di kelas dari guru-guru mereka dan berbagai ilmu yang mereka dapatkan dari hasil diskusi bersama teman-temannya, namun jika seorang anak hanya mendapatkan ilmu tanpa nilai-nilai pendidikan di sekolahnya maka peran sekolah bukanlah sebagai balai pendidikan lagi akan tetapi hanya sebagai balai pengajaran. Perlu kita garis bawahi bahwa pengajaran hanya sebagian kecil dari pendidikan itu sendiri.

Di era modern ini, kita tidak bisa menafikan akan pentingnya pendidikan setiap anak sedini mungkin. Kemajuan teknologi yang begitu pesat bukan berarti mengurangi pentingnya akan pendidikan bagi setiap anak justru kemajuan teknologi ini menuntut setiap orang untuk lebih giat lagi menggapai pendidikan setinggi mungkin. Teknologi setinggi apapun tidak akan banyak manfaatnya ketika dengan keahlian penggunanya dan keahlian inilah kita dapatkan melalui pendidikan baik yang formal maupun non formal.  Barang siapa yang ingin menjadi kaya, professor, ilmuan, insinyur dan lain sebagainya harus berpendidikan karena pendidikan saat ini telah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang baik itu orang kaya maupun miskin, muda maupun tua.  Maju tidaknya suatu negara bergantung pada sistem pendidikan negara tersebut karena masa depan negara berada pada pundak pemudanya, pemegang tali estafet roda pemerintahan yang dibentuk oleh sistem pendidikan di negaranya tersebut. Ketika sistem pendidikan negara tidak mampu melahirkan sumber daya manusia yang mumpuni maka kemajuan dan kesejahteraan negara tersebut akan sulit untuk dicapai.

Sejarah kemerdekaan Indonesia pun telah membuktikan akan pentingnya peran pendidikan dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Untuk mengenang peran pendidikan bagi bangsa ini, setiap tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional yang dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia. Perjuangan beliau bagi Pendidikan Nasional memang tak diragukan lagi yang mana beliau mempelopori pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia ketika zaman penjajahan Belanda. Dari pendidikan inilah bangsa Indonesia meningkat kemampuannya secara keilmuan, jasmani dan rasa persatuan diantara mereka sehingga mampu mengantarkan mereka menuju cita-cita tertinggi bangsa yaitu Kemerdekaan bangsa Indoensia. Ada salah satu nilai pendidikan yang dilahirkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam gerekan pendidikan yang beliau galakkan bahkan hingga saat ini semboyan tersebut masih digunakan dalam sistem pendidikan Indonesia, yaitu: pertama, Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), kedua, Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ketiga, Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Dari semboyan bapak pendidikan Indonesia ini jelas bahwa sistem pendidikan bukan hanya bertugas untuk melahirkan seseorang yang terpelajar namun juga harus mendorong seorang murid untuk bisa bermoral tinggi, kreatif untuk berkarya, dan semangat tinggi berkat support dan arahan dari guru itu sendiri.

Sayangnya nilai pendidikan yang mulia dan luas mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk aspek pengajaran telah bergeser menyempit menjadi sekedar aspek pengajaran atau proses belajar dan menuntut ilmu, atau bisa juga disebut proses mentransfer ilmu pengetahuan dari seseorang ke orang lain. Hal ini berbanding terbalik dengan makna pendidikan sesungguhnya,  sebagaimana arti pendidikan menurut Prof. H. Mahmud Yunus ialah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukanya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya. Ketika makna pendidikan telah bergeser menyempit cakupannya menjadi sekedar pengajaran sebagaimana yang terjadi di zaman ini maka tidak mengherankan jika kita sering menemukan orang yang pintar, pandai dan berbagai gelar pendidikan telah ia miliki namun sayang mereka tidak mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, negara dan agamanya bahkan justru mereka menodai dan merugikan masyarakat, negara, dan agama mereka sendiri. Orang yang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme di negara kita tercinta justru merupakan orang-orang pintar dan terpelajar yang mampu memangku jabatan penting di negara ini namun sayang mereka merupakan korban dari sistem pendidikan yang hanya berfokus pada aspek pengajaran.

Pada hakekatnya pengajaran merupakan bagian dari pedidikan bukan sebaliknya. Selain kegiatan belajar mengajar, sistem pendidikan juga harus mampu mendidik setiap insan untuk lebih dekat dan mengenali Tuhan mereka, membersihkan hati dari sifat-sifat keji (mazmumah) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah), mengembalikan hati nurani manusia kepada keadaan fitrah yang suci dan bersih supaya tidak cenderung kepada kejahatan dan kemaksiatan akan tetapi agar mereka cenderung kearah kebaikan dan ibadah. Maka ketika makna nilai pendidikan telah menyempit pada aspek pengajaran, nilai-nilai mulia ini akan hilang dari pribadi setiap orang dan yang lahir hanyalah orang yang pintar tapi membahayakan masyarakat dan negara. Manusia menjadi jahat bukan karena tidak tahu ilmu. Bahkan orang berilmu yang jahat menjadi lebih berbahaya daripada orang bodoh yang jahat, karena orang yang berilmu mampu menggunakan kelebihan akal atau ilmunya untuk melakukan kejahatan secara terorganisir rapi. Hal ini tidak lain merupakan salah satu contoh hasil proses pendidikan yang tidak tepat sehingga hanya akalnya saja yang terisi oleh ilmu namun jiwanya kosong tidak ada kehidupan.

Akal inilah yang membedakan antara manusia dan binatang akan tetapi seseorang yang akalnya kosong tak jauh bedanya dengan binatang yang tidak berakal. Akal akan hidup terisi oleh ilmu ketika ada orang yang mentransfer ilmu ke dalam akalnya melalui proses belajar pengajaran. Tanpa menafikan pentingnya ilmu bagi akal manusia pengajaran tanpa pendidikan akan menghasilkan masyarakat yang pandai tetapi rusak akhlaknya atau membahayakan masyarakat. Masyarakat akan maju di berbagai bidang dan kemewahan timbul dimana-mana tetapi akan timbul hasad dengki dimana-mana karena jiwa tiap insannya tidak hidup. Manusia menjadi individual yang tidak berkasih sayang sifat egois yang tinggi akan mematikan jiwa sosial, hal ini bertentang dengan fitrah hakiki manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial. Fisiknya saja manusia tetapi perangainya seperti setan dan hewan. Maka orang berpendidikan sudah pasti dia terpelajar dan orang terpelajar belum tentu dia berpendidikan. Bahkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 telah ditegaskan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Maka pemerintah selaku pemegang kebijakan tertinggi sistem pendidikan di negara ini harus mampu menutupi kekurangan dan kesalahan dalam sistem pendidikan di negeri ini yang harus segera diobati. Kalau kita biarkan dan tidak diobati maka fenomena ini akan semakin mengakar dan bermacam macam jenisnya. Nilai ijasah yang tinggi itu memang penting untuk selalu ditekankan akan tetapi pemerintah tidak boleh mengabaikan begitu saja nilai-nilai luhur pendidikan yang lainnya seperti nilai keimanan, akhlak, tanggung jawab, kejujuran dan tazkiyatun nafs (pembersihan hati) menuju fitrah hakiki manusia. Pemerintah harus mengevaluasi lagi untuk bisa menghidupkan kembali nilai-nilai yang hilang di dalam sistem pendidikan negeri ini agar indonesia bisa menjadi negara yang aman sejahtera bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *