Bagaimanakah Sekte-Sekte di Pakistan?

Oleh: Ayyub Rihadi

Pakistan, sebuah negara yang sangat kaya dengan sekte keagamaan di Asia Selatan. Sejak negeri ini memisahkan diri dari India melalui petisi India pada tahun 1947, aneka ragam sekte bermunculan, bahkan ikut serta dalam mengatur konstitusi Pakistan dengan mengacu kepada sistem al-Khilafah ar-Rashidah.
Proses Islamisasi ketata-negaraan telah menjadi ajang pertarungan antara dua kubu yang berbeda haluan, sekuleris yang dipelopori oleh Quad-e-Azam Ali Jinnah beserta rekan-rekannya yang memperoleh pendidikan di Inggris dan para ulama Islam yang tergabung dalam ikatan ‘Jam’iya Ulama-e-Islam’ yang secara mayoritas jebolan ‘Darul Ulum’ sebuah lembaga pendidikan terkemuka di India. Shabbir Ahmad Usmani dan Maulana Manzoor Usmani sebagai ulama yang terpilih untuk membenahi program Islamisasi Undang-Undang Pakistan di awal berdirinya.
Secara garis besar sekte keagamaan di Pakistan bisa kita bagi dalam empat tipologi : Islam Tradisionalis : Deobandi, Ahl-e-Hadith, Barelvi; Revivalis, Jama’at Islami yang didirikan oleh Abu ‘Ala Maududi; Aliran-aliran non Ahlu Sunnah (Shi’ah, Ahmadiyah dan Bahai’yah); Aliran Tasawwuf.
Pluralitas sekte di Pakistan merupakan realita yang tidak bisa dipungkiri. Masyarakat Pakistan adalah masyarakat yang majemuk secara suku. Dari segi mazhab, masyarakat Pakistan mengikuti ajaran Imam Maturidi dalam aspek teologis, dan pengikut imam Abu Hanifah dalam mazhab Fiqh. Adapun secara suku masyarakat Pakistan terbagi pada beberapa suku, diantaranya suku Pukhtoon (Pashto), Buluchi, Sindi dan Punjabi.
Dalam pandangan Islam, pluralitas agama, suku dan sekte bukanlah hal yang aneh ataupun tabu. Pluralitas merupakan sunnah kauniyah yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Yang paling penting dalam menyikapi perbedaan mazhab keagamaan dan suku adalah sikap toleransi dan saling memahami. Namun amat disayangkan, masyarakat Pakistan terbilang sebuah masyarakat yang fanatik terhadap sekte yang dianutnya, bahkan yang lebih tidak wajar sikap ekslusif yang ditonjolkan dengan keyakinan bahwa ia sajalah yang berada pada garis kebenaran. Pluralitas merupakan sunnah kauniyah yang sudah digariskan oleh Allah swt. Yang paling penting dalam menyikapi perbedaan mazhab keagamaan dan suku adalah sikap toleransi dan saling memahami. Lihat saja di sekitar kita, ada masjid Doebandi, ada mesjid Ahlu Hadist dan ada pula masjid Syia’ah. Diantara jama’ah masjid tersebut tidak ingin saling bertemu dalam satu majlis, bahkan yang ada sikap saling mengkafirkan dan menyesatkan. Wallahu’alam Bisshawab. (BeTa)

(sumber: artikel Ayyub Rohadi)
dipublish oleh: Berty Tanjung Sari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *